Langsung ke konten utama

REVIEW NOVEL R.F KUANG: YELLOWFACE

Waktu mendapati bisa meminjam novel ini, aku merasa sangat antusias. Sudah lama juga aku tidak membaca karya R.F. Kuang yang belakangan tahun kemarin hingga detik ini menjadi penulis yang sangat terkenal di Amerika hingga dunia. Novel debut nya pun menjadi bestseller secara internasional yaitu trilogi The Poppy War. By the way aku baru baca karyanya yaitu buku pertama dari Trilogi Poppy War yang mengantarkan Kuang menjadi penulis suporior dan terkenal. Belum lanjut lagi hahah, karena ngantre gaess, kalau beli... skip dulu deh soalnya halamannya tebal sampai 600 lembar😭 ytta= mehong.



Novel ini terbit tahun 2023, dan di tahun itu aku merasakan juga sensasi penasaran terhadap buku terbaru Kuang. Covernya yang kuning menyala, cantik, seakan menunjukan keceriaan ternyata adalah delusi. Setelah kubaca bukunya sampai tuntas. Big No. It is horor gaesss! Menipu sekali ya. Tapi menurutku gramedia berhasil bikin cover yang super cakep ini, bikin pembaca semua penasaran. Hasilnya aku suka dengan novel berjudul Yellowface.

Jadi bercerita tentang apa? Ini adalah novel yang menggunakan pov orang pertama tokoh 'antagonis' nya. Juniper Hayward adalah penulis. Kariernya biasa dan datar tanpa ada ketenaran yang menghiasi dirinya seperti teman kuliahnya, Athena Liu. Keduanya berbeda etnis. June, pure kulit putih dan Athena adalah orang Asia. Athena adalah sosok penulis yang mempunyai atribut segala kesempurnaan. Dia cantik, eksotis, tenar, famous, karyanya terkenal, dan kaya. Sewajarnya ini membuat June resah karena kecemburuan. Di suatu malam mereka berada di apartemen Athena untuk mengadakan pesta setelah Athena menandatangani kontrak dengan netflix untuk film yang diadaptasi dari novelnya. Pada saat mereka sedang menyantap pancake... tidak-tidak-maksudku ketika mereka sedang saling berlomba makan pancake, Athena tersedak. Dan dia meninggal. Ini lucu, aku pun tertawa.


Bukan karena aku psikopat... bukan! I think lol yeah lucu aja. Ini seperti cara mati yang konyol. Maksudku dia hampir sekelas artis yang terkenal dan di akhir hidupnya justru dia meninggal dengan cara yang jauh dari kata ummm elegan? Maaf ya karena aku tipe orang yang memikirkan mati dengan cara yang keren, semisal berjihad atau mengobarkan diri untuk menyelamatkan orang lain, aku memang aneh ya, lupakan! Tidak ada yang tahu manusia meninggal dengan cara apa ya kan? Tiada bermaksud merendahkan, hanya saja lucu buatku sekaligus memperingatkan di sisi yang lainnya, aku yakin bila tidak ada kematian yang sia-sia. Menyadarkanku penting bahwa seremeh apapun suatu hal bisa mengancam nyawa kalau kita tidak bisa menanganinya hanya karena itu hal remeh contohnya tersedak. Itulah yang dialami June setelah kematian Athena, perasaan bersalah, kosong atau hampa karena tidak bisa mempraktikkan pertolongan pertama pada orang tersedak dengan baik. Di malam itu pula Athena mempersilahkan June untuk membaca naskah baru Athena yang baru menjadi draft kasar dan belum dipublish. Di malam yang penuh guncangan itu June secara implusif mengambil naskah itu tanpa sepengetahuan polisi.


Fast foward... June mempoles sedikit cerita yang diberi judul The Last Front lalu mempublikasinya atas namanya sendiri. Nama Athena ditulis hanya sebagai inspirasi bukan sebagai pengarang. Ya... ini pencurian, dia maling, atau singkatnya plagiarisme. Buku itu lantas tenar dan meroket tajam dipasaran bahkan hampir saja hendak diadaptasi menjadi film, tetapi ketenaran atas pencapaian yang June bangun dalam waktu singkat perlahan rubuh karena ada cuitan Twitter tak dikenal yang menyatakan The Last Front adalah tulisan mendiang Athena yang dicuri June pada malam yang sama saat kecelakaan tak disengaja itu terjadi.


Tidak salah lagi karya R.F. Kuang selalu punya ciri khas yang kental, dan masih sama seperti ketika aku membaca buku pertama trilogi The Poppy War. What's that? Dia punya gaya berceritanya yang menyentuh.. tapi tidak dengan cara lembut seperti metafora, prosa, atau kiasan indah bagai belaian. Oh tentu tidak. Kalian tidak akan menemukan hal itu dikaryanya. Dia menyentuhmu dengan cara yang agak kasar, menampar, dan menggapar pembaca tepat di depan hidung mereka. Detail kata-kata yang menyebar itu menakjubkan. Permainan emosi atau psikologi dimainkan secara bar-bar olehnya, dihujamkan langsung realita menyakitkan tentang hidup yang membuat pembaca berpikir "Dunia ini sakit tidak ada yang waras." Amazing!


Buku ini mungkin bukan magnus opus nya Kuang, akan tetapi isu yang diangkat kali ini terkait plagiarisme, rasisme, cyberbully, dan kerasnya dunia kepenulisan dan penerbitan seperti ranah pengetahuan baru yang jarang dicicipi. Pada buku ini aku bersyukur diperlihatkan dapur tentang dunia penerbitan yang ternyata tidak segampang dan seenak itu. Ternyata ada banyak step yang harus dilalui untuk menerbitkan sebuah buku, editing, persaingan marketing. Huhh menulis saja sulit apalagi harus lagi memikirkan proses penerbitan yang panjang. Itu pun kalau lolos. Hahaha dunia tidak semulus itu berjalan ya.


Aku tidak akan mengatakan June jahat dan Athena baik. Keduanya punya karakter abu-abu. Aku bisa melihat sisi manusiawi mereka yang berkata seolah jangan menjudge orang. Ingat, orang selalu berubah. Tetapi perilaku tidak. June adalah maling dan itu mutlak, itu sebuah kejahatan. Tidak bisa dibantah. Kita boleh membenci perilakunya tapi tidak dengan orangnya. Novel ini Page turner sekali untuk dibaca hanya perlu 4 hari selesai sudah! Overall buku ini emang ngga terlalu nendang seperti buku sebelumnya. Tapi gaya bercerita, dan isu yang selalu coba tampil beda bikin novel ini tidak tertahankan untuk dibaca! Jadi ayo coba~


By: virgaa 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Quotes Berharga dari Buku: Berani Tidak Disukai

    Buku ini mengingatkanku akan novel filsafat karya Jostein Gaarder berjudul Dunia Shopie yang tebalnya bisa buat bantal tidur. Halamannya ngga terlalu banyak cuman 300-an, terus isinya condong ke arah psikologi dan juga filsafat. Gaya penyampaian yaitu dengan diskusi dua arah antara filsuf dan seorang pemuda. Anonim saja. Terkait tokoh tidak perlu dipusingkan. Karena sorot utama dari buku ini adalah isinya. Kenapa bisa mirip (sedikit) dengan Dunia Shopie? Itu disebabkan pendekatan solusi yang diberikan penulis pada buku ini menggunakan dialog atau diskusi. Jadi langsung to the point antara sang tokoh alias pemuda yang gelisah dengan hidupnya yang terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan kepada sang filsuf. Hal yang sama berlaku pada Shopie yang menanyakan hakikat hidup, dunia dan seisinya pada seorang filsuf dengan media surat. Intinya keduanya mengarah ke satu titik yakni :Why? Alias bertanya. Untuk memahami buku ini tidak cukup satu kali, bahasanya yang cu...

Review Novel: Ranah 3 Warna

Hey kembali lagi dengan aku yang sudah menghilang tak kembali pulang... Pertama-tama aku buat blog ini secara tidak sengaja. Bagi kalian yang sudah mengikuti akun ig ku mungkin tahu lah ya... kalau aku adalah reviewer... booksgramer atau apalah itu. Dan kali ini aku mau review novel yang baru selesai kubaca. Ini novel best benget deh, saking bestnya reviewku gak muat di caption Ig. Karena aku gak tahan buat agak sedikit spoiler, aku masukin review selengkapnya di blog ini. Semoga setelah membaca reviewku kalian tertarik membacanya. Tapi sejujurnya aku pingin minta kalian baca novelnya karena bagus banget. Simak reviewku di bawah ini ya.. 🍁🍁🍁 Novel Ranah 3 Warna ini merupakan buku ke dua dari trilogi novel Negeri  5 Menara yang fenomenal. Menceritakan kembali perjuangan Alif si mantan anak Pondok Madani yang memiliki impian seperti BJ. Habibie yang bisa berkuliah di ITB jurusan Penerbangan dan bisa merantau ke negeri orang yaitu Amerika. Tapi sebagai anak lulusan pondok, dia haru...

REVIEW NOVEL TERE LIYE: HUJAN

Tebak kapan terakhir kali aku membaca karya Tere Liye? Bulan Januari! Tidak begitu lama ya kan. Sekarang novel Hujan karyanya baru saja kutamatkan. Semenjak membaca dari awal hingga pertengahan aku merasa ada yang mengganjal alias kurang sreg. Aku senang ketika kebagian juga membaca buku itu, tidak terhitung lagi hampir 2 tahun lebih mengantre tidak dapat-dapat saking banyaknya yang ingin meminjam. Dulu meminjam pertama di Ipusnas, gila betul ada puluhan ribu orang mengantre buku itu. Se hit apa sih? Apa betul seperti kata orang-orang kalau novel Hujan itu sebagus itu? Mendem ngantre di Ipusnas aku beralih ke RBK. Sama-sama antre tetapi lebih baik. Toh setelah hampir 1 tahun aku dapat juga.  Dari segi alur nya emang ringan tapi anti mainstrem yakni kehidupan manusia tahun 2040 yang semuanya serba canggih, pakai teknologi, tenaga manusia mulai jarang dipakai (ini bagian yang paling ngga aku suka, rasanya pengin protes), ilmu pengetahuan menjadi solusi utama umat manusia. Namun berb...