Tebak kapan terakhir kali aku membaca karya Tere Liye?
Bulan Januari! Tidak begitu lama ya kan. Sekarang novel Hujan karyanya baru saja kutamatkan. Semenjak membaca dari awal hingga pertengahan aku merasa ada yang mengganjal alias kurang sreg. Aku senang ketika kebagian juga membaca buku itu, tidak terhitung lagi hampir 2 tahun lebih mengantre tidak dapat-dapat saking banyaknya yang ingin meminjam. Dulu meminjam pertama di Ipusnas, gila betul ada puluhan ribu orang mengantre buku itu. Se hit apa sih? Apa betul seperti kata orang-orang kalau novel Hujan itu sebagus itu? Mendem ngantre di Ipusnas aku beralih ke RBK. Sama-sama antre tetapi lebih baik. Toh setelah hampir 1 tahun aku dapat juga.
Dari segi alur nya emang ringan tapi anti mainstrem yakni kehidupan manusia tahun 2040 yang semuanya serba canggih, pakai teknologi, tenaga manusia mulai jarang dipakai (ini bagian yang paling ngga aku suka, rasanya pengin protes), ilmu pengetahuan menjadi solusi utama umat manusia. Namun berbanding terbalik dengan populasi manusia yang anehnya justru makin meningkat. Bumi yang kecil ini makin sesak penuh dengan penghuninya yang tamak, tidak pernah puas, dan menghancurkan tempat tinggal mereka tanpa diri mereka sadari.
Ketika bayi yang ke sepuluh miliar lahir di bumi, Lail yang hendak berangkat bersama ibunya ke sekolah mengalami sebuah kejadian paling mengerikan di muka bumi yang dikenang di tahun-tahun berikutnya. Yaitu terjadinya peristiwa bencana alam, gunung purba aktif dengan kekuatan skala 8 yang menghancurkan manusia dan peradaban nyaris hilang. Hanya 10% manusia yang tersisa. Lainnya telah tiada karena bencana super mengerikan. Awan vulkano, gempa, dan tsunami menghempaskan pulau, benua dan manusia yang tinggal.
Lail kehilangan Ibunya dan seluruh keluarganya. Ia bertemu Esok lebih tepatnyaEsok menyelamatkan hidup Lain. Esok, anak lelaki yang 2 tahun di atas Lail berada di satu kereta yang sama ditumpangi Lail. Mereka satu-satunya yang selamat dari korban yang terjebak di kereta bawah tanah pada saat gempa bumi melanda. Fas foward, Esok adalah segalanya buat Lail. Dia anak yang sangat peduli, berani, cerdas dan pengertian. Esok selalu membantu Lail ketika mereka berada di pengungsian. Dia menyelamatkan Lail dari Hujan asam, menemaninya saat senang dan sedih jika tiba-tiba dia teringat pada Ibunya yang terpendam di bawah tanah, mereka selalu bersama, jika ada Esok maka pasti ada Lail. Awalnya Lail tidak tahu tentang perasaannya. Dia masih kecil. Namun setelah bertahun-tahun ia merasakan sesuatu, cemburu pada Claudia (adik dari keluarga angkat Esok), ingin selalu melihat dan bersamanya, ragu tapi rindu. Namun apakah Lail selalu begitu? Apakah ia menghabiskan waktunya dengan menggalau ria di saat Esok berada di Ibu kota sedang menjalani kuliahnya dan menjadi mahasiswa dengan proyek rahasia untuk muka bumi ini?
Tentu tidak. Kesibukan menjadi penawarnya. Ia berusaha mengalihkan perhatian untuk fokus melakukan kesibukan. Di usia yang belum ada 18, ia dan Maryam (sahabat baik satu kamar di panti) sudah menjadi relawan, ia memperoleh penghargaan atas dedikasinya setelah berlari 50 km melawan badai untuk mengabarkan penduduk di daerah itu jika ada bendungan yang jebol, serta berada di level pendidikan A sebagai perawat. Ia hanya bertemu Esok sekali setahun selama 2 jam untuk mengobrol menghabiskan waktu. Yah walau kedepannya mereka jadi jarang bertemu, itulah yang membuat konflik ini muncul. Lail dengan gengsi yang tinggi dan Esok yang selalu menunggu waktu yang tepat untuk menelpon supaya tidak mengganggu Lail.
Di akhir cerita aku merasa cukup puas karena akhirnya... aku bisa diajak berlari ngos-ngosan juga. Ketika Esok berusaha menghentikan Lail yang salah paham karena ia ingin melupakan kenangan pahit. Ia ingin melupakan Esok. Karena Ia pikir Esok tidak pernah mencintainya. Oh Lail, you agak ngeselin.
Terlepas dari itu, yang membuatku kurang sreg dengan novel ini karena ekspektasiku sangat tinggi. Gambaran masa depan kurang muncul benar di pikiranku, kurang detail aja gitu. Terus gaya penulisnya emang cocok buat remaja ya, pas aku baca agak gimana gitu. Kalau aku baca ini ketika usia masih belasan tahun, mungkin aku akan baper mulai dari awal cerita. Feel cerita novel ini baru kerasa ketika mendekati penghujung novel, itu mantep sih. Sisanya kurang nampol. Rasanya novel ini cuman buat menghibur remaja doang. Balik lagi ke prinsipku, selagi bisa dinikmati, seru, gemes, punya amanah, kenapa tidak? Baca novel ini serasa kembali ke usia belasan tahun wkwkw. Aku merasa tua banget iniπ

Komentar
Posting Komentar