Langsung ke konten utama

Quotes Berharga dari Buku: Berani Tidak Disukai

  


Buku ini mengingatkanku akan novel filsafat karya Jostein Gaarder berjudul Dunia Shopie yang tebalnya bisa buat bantal tidur. Halamannya ngga terlalu banyak cuman 300-an, terus isinya condong ke arah psikologi dan juga filsafat. Gaya penyampaian yaitu dengan diskusi dua arah antara filsuf dan seorang pemuda. Anonim saja. Terkait tokoh tidak perlu dipusingkan. Karena sorot utama dari buku ini adalah isinya. Kenapa bisa mirip (sedikit) dengan Dunia Shopie? Itu disebabkan pendekatan solusi yang diberikan penulis pada buku ini menggunakan dialog atau diskusi. Jadi langsung to the point antara sang tokoh alias pemuda yang gelisah dengan hidupnya yang terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan kepada sang filsuf. Hal yang sama berlaku pada Shopie yang menanyakan hakikat hidup, dunia dan seisinya pada seorang filsuf dengan media surat. Intinya keduanya mengarah ke satu titik yakni :Why? Alias bertanya.


Untuk memahami buku ini tidak cukup satu kali, bahasanya yang cukup rumit sebetulnya membuatku agak bingung. Tapi anehnya aku paham betul apa yang sedang dijelaskan oleh filsuf. Ada banyak sekali kalimat-kalimat bagus dibuku ini yang bisa dijadikan bahan renungan semalaman. Aku akan memberikannya pada kalian. Harapannya kalian akan tertarik membaca buku ini!


Ini dia:

Opiniku tentang teori psikologi Adler >>> Trauma itu ngga ada, masa lalu itu ngga ada, lingkungan itu tidak penting, emosi hanyalah alat untuk mencapai tujuan.


Tidak bisa dihindari bahwa ketika kau masuk 

dalam hubungan interpersonal, sampai ke tingkat tertentu, engkau akan terluka dan melukai orang lain pula


Kau hanya memperhatikan kekuranganmu 

karena kau sudah bertekad untuk tidak menyukai dirimu sendiri. Agar tidak menyukai dirimu sendiri, kau tidak mau melihat poin-poin yang menjadi kelebihanmu, dan hanya berfokus pada kekuranganmu.


Menurutmu trauma itu tidak ada, dan lingkungan juga tidak penting. Itu semua hanyalah beban tambahan, dan ketidakbahagiaanku adalah salahku sendiri.


Tidak bisa dihindari bahwa ketika kau masuk 

dalam hubungan interpersonal, sampai ke tingkat tertentu, engkau akan terluka dan melukai orang lain pula.


Apa yang orang lain pikirkan tentang dirimu, entah mereka menyukaimu atau tidak itu adalah tugas mereka, bukan tugasku. Itukah yang ingin kaukatakan?


Aetiologis Freud adalah ilmu psikologi tentang kepemilikan yang pada akhirnya tiba pada determinisme


Yang penting bukanlah apa yang menyertai seseorang sejak lahir, tapi bagaimana orang itu memanfaatkannya.


Pikiran dan tubuh dipandang sebagai suatu kesatuan, yang tidak bisa dipisahkan ke dalam bagian-bagian.


Pandangan terhadap manusia sebagai “diriku yang utuh, sebagai makhluk yang tidak bisa dibagi dan tidak bisa dipecah lagi menjadi beberapa bagian, disebut sebagai “holisme”.


Hanya ketika seseorang mampu merasakan bahwa dirinya berhargalah dia bisa memiliki keberanian.


Memperluas hal yang kau sebut “masyarakat” ini dengan memasukkan seluruh alam semesta, bahkan masa lalu dan masa depan, dan segalanya dari makhluk hidup hingga benda mati?


Sewaktu seseorang memuji orang lain, tujuannya 

adalah “memanipulasi seseorang yang memiliki kemampuan lebih rendah dari dirinya”. Ini tidak dilakukan karena rasa terima kasih atau hormat


Teori psikologi Adler terlibat dalam penyelidikan hubungan interpersonal yang cermat dan teliti. Dan tujuan akhir hubungan interpersonal ini adalah perasaan sosial


Seseorang tidak boleh memberikan pujian. Dan dia juga tidak boleh memberikan teguran. Semua perkataan yang dipakai untuk menilai orang lain adalah kata-kata yang keluar dari hubungan vertikal, dan kita perlu membangun hubungan horizontal. Dan hanya ketika seseorang mampu merasakan bahwa dia berguna bagi orang lainlah dia bisa memiliki pengertian yang sesungguhnya akan nilai dirinya.


Nilai seseorang adalah apa yang diberikan seseorang pada dirinya sendiri


Bagaimanapun, ini adalah tentang perasaan sosial. Secara konkretnya, beralih dari melekat pada diri sendiri (kepentingan diri sendiri) ke kepedulian terhadap orang lain (kepentingan sosial), dan memperoleh perasaan sosial


Tiga hal diperlukan di titik ini: “penerimaan diri”, “keyakinan pada orang lain” dan “kontribusi terhadap orang lain”


Bagaimanapun, ini adalah tentang perasaan sosial. Secara konkretnya, beralih dari melekat pada diri sendiri (kepentingan diri sendiri) ke kepedulian terhadap orang lain (kepentingan sosial), dan memperoleh perasaan sosial.


Ketika menjelaskan upaya untuk meraih superioritas? Bahwa semua manusia ada dalam kondisi ingin meningkatkan diri.


Kurt Vonnegut dalam salah satu bukunya: “Tuhan, berilah aku kedamaian untuk dapat menerima hal-hal yang tidak bisa kuubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang bisa kuubah, dan hikmat untuk selalu bisa mengenali perbedaannya.” Ini ada dalam novel Slaughterhouse-Five


Kita tidak kekurangan kemampuan. Kita hanya kurang keberanian.


Penerimaan diri: menerima “inilah diriku” yang tak tergantikan dengan apa adanya. Keyakinan terhadap orang lain: menaruh keyakinan tanpa syarat sebagai dasar dari hubungan interpersonal seseorang, ketimbang menabur bibit keraguan


Bagi manusia, ketidakbahagiaan terbesar adalah tidak mampu menyukai diri sendiri. Adler datang dengan jawaban yang teramat sederhana untuk menjawab realitas ini. Yakni bahwa perasaan bahwa “aku bermanfaat bagi komunitasku” atau “aku berguna bagi orang lain” adalah satu-satunya hal yang bisa mem-beri orang kesadaran yang sesungguhnya bahwa dia bernilai


Ringkasnya, kebahagiaan adalah perasaan berkontribusi. Itulah denisi dari kebahagiaan.


Tidak ada perlunya mendapatkan pengakuan dari orang lain.


Upaya untuk meraih superioritas=istilah yang mengindikasikan “harapan untuk meningkatkan diri” dan “mengejar keadaan yang ideal”.


Semua jenis masalah perilaku, mulai dari menolak bersekolah, mengiris nadi, sampai anak-anak di bawah umur yang minum-minum dan merokok dan seterusnya, adalah bentuk-bentuk upaya untuk meraih superioritas secara mudah


Paradoks Socrates, bahwa tidak ada orang yang menginginkan kejahatan


Eksistensi yang kelihatannya linear sebenarnya merupakan serangkaian titik; dengan kata lain, hidup ini merupakan rangkaian momen.


Aristotle. Pergerakan biasa yang disebut sebagai kinesis memiliki titik awal dan titik akhir. Pergerakan dari titik awal ke titik akhir menjadi optimal kalau dilakukan seesien dan secepat mungkin


Dan Adler, yang menyatakan bahwa “hidup ini pada umumnya tidak berarti”, lalu melanjutkan, “Apa pun arti kehidupan harus ditetapkan oleh individu itu sendiri.”


Kata-kata Adler: “Harus ada yang mulai. Orang lain mungkin tidak bersikap koo-peratif, tapi itu tidak ada kaitannya dengan engkau. Nasihatku adalah ini: Kau harus mulai. Tanpa memandang apakah orang lain kooperatif atau tidak.


BUKAN PENEGASAN DIRI, TAPI PENERIMAAN DIRI


Cara hidup ketika seseorang terus-menerus dibuat susah oleh cara orang lain memandangnya adalah gaya hidup yang mementingkan diri sendiri, dengan kepedulian orang semata-mata terletak pada "aku"


Keberanian untuk bahagia juga mencakup keberanian untuk tidak disukai


Singkatnya, "kebebasan berarti tidak disukai oleh orang lain".


Yang penting bukanlah apa yang menyertai seseorang sejak lahir, tapi bagaimana orang itu me-manfaatkannya


Teori psikologi Adler adalah teori psikologi yang bertujuan mengubah diri sendiri, bukan mengubah orang lain


Saat kau sungguh-sungguh bisa merasakan bahwa "manusia adalah kawan seperjuanganku", caramu memandang dunia ini akan berubah sepenuhnya


Biisa merasakan bahwa "manusia adalah kawan seperjuanganku", caramu memandang dunia ini akan berubah sepenuhnya


Dia seharusnya mengikutkan saja tulisannya dalam kon-tes, dan sekalipun ditolak, itu bukan masalah. Kalau melakukan-nya, dia mungkin akan berkembang, atau menemukan bahwa sebaiknya dia mengejar sesuatu yang berbeda


Tidak ada seorang pun di antara kita yang tinggal di du-nia yang objektif, melainkan di dunia yang kita maknai secara subjektif. Dunia yang engkau lihat berbeda dengan dunia yang kulihat, dan mustahil berbagi duniamu dengan orang lain.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel: Ranah 3 Warna

Hey kembali lagi dengan aku yang sudah menghilang tak kembali pulang... Pertama-tama aku buat blog ini secara tidak sengaja. Bagi kalian yang sudah mengikuti akun ig ku mungkin tahu lah ya... kalau aku adalah reviewer... booksgramer atau apalah itu. Dan kali ini aku mau review novel yang baru selesai kubaca. Ini novel best benget deh, saking bestnya reviewku gak muat di caption Ig. Karena aku gak tahan buat agak sedikit spoiler, aku masukin review selengkapnya di blog ini. Semoga setelah membaca reviewku kalian tertarik membacanya. Tapi sejujurnya aku pingin minta kalian baca novelnya karena bagus banget. Simak reviewku di bawah ini ya.. 🍁🍁🍁 Novel Ranah 3 Warna ini merupakan buku ke dua dari trilogi novel Negeri  5 Menara yang fenomenal. Menceritakan kembali perjuangan Alif si mantan anak Pondok Madani yang memiliki impian seperti BJ. Habibie yang bisa berkuliah di ITB jurusan Penerbangan dan bisa merantau ke negeri orang yaitu Amerika. Tapi sebagai anak lulusan pondok, dia haru...

REVIEW NOVEL TERE LIYE: HUJAN

Tebak kapan terakhir kali aku membaca karya Tere Liye? Bulan Januari! Tidak begitu lama ya kan. Sekarang novel Hujan karyanya baru saja kutamatkan. Semenjak membaca dari awal hingga pertengahan aku merasa ada yang mengganjal alias kurang sreg. Aku senang ketika kebagian juga membaca buku itu, tidak terhitung lagi hampir 2 tahun lebih mengantre tidak dapat-dapat saking banyaknya yang ingin meminjam. Dulu meminjam pertama di Ipusnas, gila betul ada puluhan ribu orang mengantre buku itu. Se hit apa sih? Apa betul seperti kata orang-orang kalau novel Hujan itu sebagus itu? Mendem ngantre di Ipusnas aku beralih ke RBK. Sama-sama antre tetapi lebih baik. Toh setelah hampir 1 tahun aku dapat juga.  Dari segi alur nya emang ringan tapi anti mainstrem yakni kehidupan manusia tahun 2040 yang semuanya serba canggih, pakai teknologi, tenaga manusia mulai jarang dipakai (ini bagian yang paling ngga aku suka, rasanya pengin protes), ilmu pengetahuan menjadi solusi utama umat manusia. Namun berb...