Hey kembali lagi dengan aku yang sudah menghilang tak kembali pulang... Pertama-tama aku buat blog ini secara tidak sengaja. Bagi kalian yang sudah mengikuti akun ig ku mungkin tahu lah ya... kalau aku adalah reviewer... booksgramer atau apalah itu. Dan kali ini aku mau review novel yang baru selesai kubaca. Ini novel best benget deh, saking bestnya reviewku gak muat di caption Ig. Karena aku gak tahan buat agak sedikit spoiler, aku masukin review selengkapnya di blog ini. Semoga setelah membaca reviewku kalian tertarik membacanya. Tapi sejujurnya aku pingin minta kalian baca novelnya karena bagus banget. Simak reviewku di bawah ini ya..
🍁🍁🍁
Novel Ranah 3 Warna ini merupakan buku ke dua dari trilogi novel Negeri 5 Menara yang fenomenal. Menceritakan kembali perjuangan Alif si mantan anak Pondok Madani yang memiliki impian seperti BJ. Habibie yang bisa berkuliah di ITB jurusan Penerbangan dan bisa merantau ke negeri orang yaitu Amerika. Tapi sebagai anak lulusan pondok, dia harus berjibaku menyiapkan diri untuk tes persamaan SMA supaya bisa mendapat ijazah agar Alif bisa masuk keperguruan tinggi. Diremehkan, dianggap tidak bisa apa-apa selain mengajar agama pernah Alif dengar. Ia menahannya dengan sabar. Ia ingin mewujudkan impiannya tingginya agar bisa membanggakan orang tuanya di Maninjau, Sumatra Barat. Perjalanan itu pastinya tidak akan mudah. Dengan tekad Man Jada Wajada, Alif bersungguh-sungguh menaklukkan ketidakmungkinan. Bisakah ia menggapai impiannya? Temukan jawabannya di novel Ranah 3 Warna.
🍁🍁🍁
Cerita bermula ketika Alif diremehkan. Dia pengin ke luar negeri, tapi Randai sahabat sejak kecilnya itu bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana Alif bisa masuk kuliah karena pondok Alif dulu tidak memberikan ijazah. Tapi Alif gak mau diremehin terus. Untung dia terbiasa ditempa dengan hal2 kaya gitu di pondoknya dulu, jadi dia akhirnya bersungguh-sungguh untuk bisa masuk kuliah. Dan holaa siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil. Ingat kata pamungkas di novel Negeri 5 Menara itu? Alif berhasil membuktikan kalau dia bisa. Sama seperti tim Dermank di piala Eropa tahun 1992. Tim Denmark menjadi juara dunia, 2-0 mengalahkan Jerman telak!
Pasalnya Tim Dermank itu bisa masuk semi final karena keberuntungan. Meski dianggap Underdog, Tim Dermank berhasil membuktikan mereka bisa, mereka mengalahkan Belanda di Semi Final dan melawan Jerman yang dikenal juara dunia di babak Final. Karena kemenangan Tim Denmark itu, semangat Alif terpacu. Berkat usaha dan dukungan orang2 terdekatnya Alif bisa kuliah di Bandung. Masya Allah! Semangat Alif dan caranya mendapatkan motivasi adalah hal paling mendasar yang membuat novel ini begitu luar biasa. Aku suka ketika Alif terpuruk ia selalu ingat pesan guru-gurunya dan rasa percayanya kepada sang pencipta.
Di Bandung. Alif akhirnya untuk kedua kalinya merantau di tanah Jawa. Yang sudah pernah baca novel ini ada yang kangen gak sama para Sohibul Menara? Kira2 mereka muncul gak ya di cerita ini? Tapi serius aku kangen benget sama mereka berlima. Tapi Alif dipertemukan dengan orang baru di Bandung. Teman2 nya sangat baik pada Alif. Dia juga dipertemukan dengan seorang perempuan bernama Raisa. Dan kisah romance di sini tuh gregetnya minta ampun. Pokoknya baca deh. Alif tinggal jauh dari kampungnya, masalah ekonomi untuk keberlangsungan kuliahnya jadi alur yang gak bisa diskip. Alif harus memutar otak dan segala cara supaya dia bisa mengurangi beban Amaknya di kampung. Dia berjualan sana sini, dengan masalah ini-itu, tapi akhirnya Alif mempunyai satu keahlian yang membuat masa2 suram perekonomian padam. Apa itu? Tentu yang tahu ceritanya pasti sudah menebak. Apa lagi kalau bukan menulis. Di sini kalian bisa ngerasain ternyata menulis berita maupun artikel supaya bisa tembus di media berat banget usahanya. Banyak waktu dan biaya yang berbarengan harus dikeluarkan. Dan setelah jerih payah itu terkadang hasilnya tidak memuaskan. Tapi setelah banyak alur yang membuat emosi gonjang-ganjing, berkat tulisannya termuat di media... Alif bisa mengikuti pertukaran pelajar ke luar negeri dan mewujudkan impiannya pergi ke Amerika. Rasanya tuh kita kaya ikut merasa senang. Setelah usaha keras Alif dilatih, dibina dan ditempa sama senior yang kaya monster dalam mendidik Alif supaya bisa menulis... Alif bisa merasakan manisnya perjuangan.
Eits tapi gak sampai itu... perjuangan Alif masih sangat panjang loh. Pertama-tama sebelum tiba di Kanada Alif dan kawan-kawan yang terpilih sebagai duta muda untuk perwakilan pertukaran pelajar, mereka mengunjungi ke Yordania. Alif juga ketemu sama kakak seniornya yang sudah lulus dari PM. Pas Alif nyeritain gimana sih Yordania... bulu kudukku rasanya meremang. Membayangkan kehidupan timur tengah yang dikelilingi dengan sejarah. Antara Islam, Romawi dan Bizantium. Ouh ya Alif juga ketemu kawan baru loh di pertukaran pelajar itu. Namanya Rusdi. Orangnya suka berpantun dan sangat ekspresif, bagai kelebihan semangat. Seru banget.
Setelah mampir ke Yordania, pesawat yang ditumpangi para duta muda akhirnya mendarat ke Kanada. Dan di sini, very excited! Sebelum mereka dipindahkan ke pedalaman Quebec mereka dikumpulkan untuk menemui homologue. Atau teman pendamping selama enam bulan di Kanada. Walau aku belum nonton filmnya tapi aku udah kebanyang gimana aula tempat para pertukaran pelajar berkumpul. Dan Alif pun dipasangkan dengan Franc yang punya latar belakang dalam dunia Jurnalistik dan pertelevisian. Kalau dilihat dari trailer film kayaknya ada perubahan deh. Soalnya kalau difilm Alif ditempatkan di pertenakan, namun di novel Alif bisa ditempatkan di tempat yang dia inginkan berkaitan bidang pertelevisian. Penasaran kira2 bagusan novel atau filmnya ya? Next Alif dan Franc bertemu dengan orang tua angkat mereka. Perbedaan budaya, dan fun fact yang ada di Kanada dan di Indonesia bikin pembaca jadi lebih berpikir. Jadi salah satu yang perlu diperbaiki sama negeri kita. Terus ada satu scene yang di mana para duta umum seperti Alif mengadakan upacara bendera memperingati hari pahlawan. Disambung dengan festival budaya dan makanan. Saat pengibaran, para anak muda yang tinggal di Kanada itu menangis terharu. Aku juga ikut merasa campur aduk, sedikit ngerti perasaan Alif dkk. Mataku gak kuat karena berkaca-kaca saking terbawa suasana. Lalu keharmonisan keluarga angkat juga gak kalah menarik, meski beda bahasa, budaya, keyakinan, mereka saling akur sama lain. Ikut ngerasa sedih pas Alif dkk harus berpisah dengan orang tua angkat mereka.
Kalau yang udah nonton film pasti kalian lihat pas Alif gagal menyampaikan perasaan ke Raisa karena sudah ditikung duluan sama teman? Nah aku yang liat cuplikannya aja udah ngerasa ikut ngenes, sakit banget gak tuh. Tapi happy ending kok. Ceritanya ditutup dengan epik karena perjalanan Alif belum usai.
Kenapa kalian harus baca buku ini? Jawabannya simple:
1. Bukunya related. Yang ngerasain jadi anak rantau dan pernah mengalami masalah ekonomi saat kuliah pasti related banget.
2. Kisah perjuangan Alif dan caranya membakar semangat itu patut diapresiasi. Rasanya malu banget dan sadar kalau aku ternyata kurang bersyukur. Membaca buku ini membuat kita merenung dan berpikir.
3. Persahabatan. Kisah Sohibul Menara di novel pertamanya emang selalu menghibur dan terkadang menguras air mata. Jadi pengin banget punya sahabat seperjungan, yang saling menyemangati untuk meraih impian dan mengingatkan satu sama lain agar tetap berada di jalan-Nya. Tapi di sini persabatan, rivalnya Alif yaitu Randai juga sangat keren.
4. Banyak motivasi atau petuah hidup yang bisa disimpan sebagai penyemangat dan pengingat.
5. Keharmonisan kekeluargaan dan juga teman sangatlah kental di novel ini.
6. Di novel ini kita belajar banyak perlajaran terutama dari Alif yang bahkan dididik dengan keras dan membuat mental down se down-down-nya tapi Alif selalu menyulut hati dengan keyakinan tinggi. Salut benget deh.
Sebenarnya pengin banget cerita lebih banyak entang buku ini. Tapi nanti spoiler dong. Jangan ya... yang penasaran buku ini jalan ceritanya gimana harus baca dong bukunya. Semoga dengan reviewku ini kalian jadi penasaran dan bisa baca bukunya... atau kalain bisa nonton film-nya. Aku pengin sih nonton, tapi berharap bisa ditayangkan di TV. Adaptasi film novel Trilogi dari Negeri 5 Menara karya A. Fuadi emang the best banget. Kalau aku ditanya udah nonton apa belum? Aku akan jawab. PENGIN BANGET!! Tapi belum kesampaian. Jadi nonton trailer dulu, sembari mangawang-ngawang pas baca novelnya jadi ngerti tokohnya kaya gimana aja.
Tahun kemarin film yang diadaptasi dari novel Ranah 3 Warna tayang di bioskop. Gimana udah pada nonton film-nya belum? Yang belum sempat nonton, coba baca novelnya dulu deh. Soalnya aku tipikal baca novelnya dulu. Happy Reading!

Komentar
Posting Komentar