Entah kenapa setiap bulan September itu, bintang terasa begitu terang
Seakan rela menemaniku begadang
Hingga pagi menjelang
Sebab tahu bahwa bulan ini amat spesial
Mereka memancarkan sinarnya kuat dan tak mau mengalah oleh polusi cahaya kota
Aku pun rela-rela mendongak hingga leherku nyaris berputus asa
Tapi bagaimana bisa aku mengalihkan dari terangnya bintangku
Yang sudah lama menanti-nati sepanjang hidupku
Satu tahun sekali kau tahu?
Kembali lagi aku ingin mengadu
Seperti dulu..
Bukan liputan kesedihan atau kebahagiaan yang mudah kusembunyikan
Namun ini tentang seseorang yang membuatku terperangkap dalam jurang
Bisa kesenangan dan juga duka lara
Terbuat dari hati terkunci yang kubuka sendiri
Dan bodohnya aku tidak tahu harus menyalahkan siapa jika hati itu tersakiti
Bintang, aku telah menemukan setetes sinarmu di darat
Yang tak perlu kucari keberadaannya hanya sekilas
Dia nyata bukan imajninasiku
Walau terkadang ia seperti khayalan yang memaksa jadi nyata
Sayangnya sifatnya sama sepertimu
Dia tinggi dan bersinar
Aku terpenjara oleh keindahan itu
Tetapi dia besar
Tidak... dia tidak tinggal di langit sepertimu
Dia ada di darat tapi tingginya menyentuh langit-langit
Merobek awan-awan menjadi buliran kapas besar berarak panjang
Dia memaksaku untuk mendongak
Perasaannya tidak serela ketika engkau hadir malam itu
Aku sedikit terpaksa
Karena kalau tidak begitu ia semakin tak terjangkau
Dan pada akhirnya untuk menikmati itu aku harus menjauh
Sungguh frustasi rasanya
Aku ingin mengeluh pada Sapardi
Pada Jokpin pada Chairil
Pada Buya Hamka pada Rendra pada Shakspare
Bahkan aku juga ingin mengadu pada Majnun
Aha, aku sudah gila
Itu jelas.
Atau justru dia yang gila?
Guru besar berkata padaku,
Pesimistis kalau kaum wanita bisa menguasai dunia sastra
Hanya lelaki yang bisa ucapnya
Dunia indah yang dipandang lewat hati dan cinta-kata Buya Hamka
Tetapi untuk memahami pertanda dan juga kode kenapa tak bisa?
Kata-kata hanya sebatas huruf bertemu dan hidup horizontal di muka
Mungkin saja sandi morse pun tak akan mempan untuknya
Kibaran bendera di pelabuhan hanya kain melambai aneh untuknya
Gerakan jari penuh isyarat bukan dimaksudkan untuknya
Elemen-elemen dunia hanya ninja saja yang memahaminya
Lalu apa?
Jika aku berani mengutip pepatah dari sepak bola..
Aku sudah melakukannya terang-terangan
Bola itu hanya melesat saja
Tidak sampai menendangnya
Hanya melewatinya
Seperti tendangan lemah anak perempuan yang bermain bola
Sebab itu bukan ranahnya
Dia tidak melihat arti tendangannya itu,
Tendangan sebuah keberanian
Yang berusaha keras mengalahkan dominasi pria
Yang payah dan dungu
Ah benar dia dungu
Senyumannya dungu
Benar-benar dungu
Aku pun dungu
Oleh: Virga Cahya S.
September, 2024
Komentar
Posting Komentar