Langsung ke konten utama

Selamat hari Ibu 22 Deswmber 2022

Terkadang sering kubertanya, kenapa bisa ya? Kenapa bisa dia setegar itu. Mengapa bisa ia tersenyum dan menyapa hangat  seperti biasa? Di dalam hati aku menyakini diri kalau aku jadi dia pasti aku akan menangis. Terlampau sulit tuk bertahan sehingga tercipta rasa sakit. Tapi kenapa dia tidak? Mengapa dia berbeda? Jelas karena ia istimewa. Melihat senyumnya seperti melihat luka tak terlihat yang semakin melebar, seperti bom waktu. Aku sakit, tapi apakah ia juga merasakan hal yang sama di dalam kepura-puraan tawanya? Tapi aku rasa lukanya akan sembuh jika dia tertawa, perlahan-lahan juga ikut tertutup. Seperti ia mengkhilaskan segalanya. Ya meski akhirnya tak berkata-kata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Quotes Berharga dari Buku: Berani Tidak Disukai

    Buku ini mengingatkanku akan novel filsafat karya Jostein Gaarder berjudul Dunia Shopie yang tebalnya bisa buat bantal tidur. Halamannya ngga terlalu banyak cuman 300-an, terus isinya condong ke arah psikologi dan juga filsafat. Gaya penyampaian yaitu dengan diskusi dua arah antara filsuf dan seorang pemuda. Anonim saja. Terkait tokoh tidak perlu dipusingkan. Karena sorot utama dari buku ini adalah isinya. Kenapa bisa mirip (sedikit) dengan Dunia Shopie? Itu disebabkan pendekatan solusi yang diberikan penulis pada buku ini menggunakan dialog atau diskusi. Jadi langsung to the point antara sang tokoh alias pemuda yang gelisah dengan hidupnya yang terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan kepada sang filsuf. Hal yang sama berlaku pada Shopie yang menanyakan hakikat hidup, dunia dan seisinya pada seorang filsuf dengan media surat. Intinya keduanya mengarah ke satu titik yakni :Why? Alias bertanya. Untuk memahami buku ini tidak cukup satu kali, bahasanya yang cu...

Review Novel: Ranah 3 Warna

Hey kembali lagi dengan aku yang sudah menghilang tak kembali pulang... Pertama-tama aku buat blog ini secara tidak sengaja. Bagi kalian yang sudah mengikuti akun ig ku mungkin tahu lah ya... kalau aku adalah reviewer... booksgramer atau apalah itu. Dan kali ini aku mau review novel yang baru selesai kubaca. Ini novel best benget deh, saking bestnya reviewku gak muat di caption Ig. Karena aku gak tahan buat agak sedikit spoiler, aku masukin review selengkapnya di blog ini. Semoga setelah membaca reviewku kalian tertarik membacanya. Tapi sejujurnya aku pingin minta kalian baca novelnya karena bagus banget. Simak reviewku di bawah ini ya.. 🍁🍁🍁 Novel Ranah 3 Warna ini merupakan buku ke dua dari trilogi novel Negeri  5 Menara yang fenomenal. Menceritakan kembali perjuangan Alif si mantan anak Pondok Madani yang memiliki impian seperti BJ. Habibie yang bisa berkuliah di ITB jurusan Penerbangan dan bisa merantau ke negeri orang yaitu Amerika. Tapi sebagai anak lulusan pondok, dia haru...

REVIEW NOVEL TERE LIYE: HUJAN

Tebak kapan terakhir kali aku membaca karya Tere Liye? Bulan Januari! Tidak begitu lama ya kan. Sekarang novel Hujan karyanya baru saja kutamatkan. Semenjak membaca dari awal hingga pertengahan aku merasa ada yang mengganjal alias kurang sreg. Aku senang ketika kebagian juga membaca buku itu, tidak terhitung lagi hampir 2 tahun lebih mengantre tidak dapat-dapat saking banyaknya yang ingin meminjam. Dulu meminjam pertama di Ipusnas, gila betul ada puluhan ribu orang mengantre buku itu. Se hit apa sih? Apa betul seperti kata orang-orang kalau novel Hujan itu sebagus itu? Mendem ngantre di Ipusnas aku beralih ke RBK. Sama-sama antre tetapi lebih baik. Toh setelah hampir 1 tahun aku dapat juga.  Dari segi alur nya emang ringan tapi anti mainstrem yakni kehidupan manusia tahun 2040 yang semuanya serba canggih, pakai teknologi, tenaga manusia mulai jarang dipakai (ini bagian yang paling ngga aku suka, rasanya pengin protes), ilmu pengetahuan menjadi solusi utama umat manusia. Namun berb...