Tapakan langkang panjang terdengar dari arah ruang tengah. Sela, si gadis paling buru-buru dan sok sibuk di dunia berjalan cepat. Dia bolak-balik dari ruangan tengah, kemudian ke kamar, lalu ke dapur, ke tengah lagi. Sambil celingukan mencari sesuatu yang paling penting seumur hidupnya. Benda 'gepeng' yang amat berharga tapi juga membahayakan. Dia mulai menggerutu dan terkadang sedikit risau takut android kesayangannya hilang dan mungkin rusak.
"Cari apa sih kak?" Anak laki-laki kelas 6 SD yang ternyata adalah adik Sela, merasa terganggu dengan perilaku kakaknya yang terus mondar-mandir tak jelas.
"Handphoneku di mana? Kamu tau Co?" Sela berhenti mondar-mandir tak jelas setelah mendengar pertanyaan adiknya.
"Mamah kali yang ngumpetin!" Timpal adik Sela menunjuk mamah Sela yang sedang memasukan sesuap nasi anget di piring. Sela menelan ludah, dia tahu kebiasaan tak menyenangkan dari mamahnya. Apalagi kalau bukan menyembunyikan handphone anak-anaknya sebelum jam setengah tujuh.
"Mah, handphone aku di mana?" Akhirnya Sela memberanikan diri untuk menanyakan handphone miliknya. Padahal Sela jarang sekali bertanya sebelum diberi. Dalam pikiran Sela mamahnya pasti paling-paling hanya akan menjawab, "jam berapa sekarang? Belum pukul setengah tujuh kan? Semalam penuh handphonemu sudah dicas. Ngga bakal ngedrop deh."
Sela menghembuskan nafas panjang kalau mendengar jawaban mamahnya. Tapi tak berlangsung lama suara mamahnya membalas. "Handphone.... hmmm ada di kamar mamah kayaknya. Ngga tau mamah lupa naruhnya di mana."
Sela manyeringai ini keajaiban, kemudian beranjak pergi ke kamar mamahnya. Lampu bolam remang-remang menghiasi kamar itu, agak terlihat gelap dengan warna orange redup.
"Di mana?" Sela mulai sibuk mencari. Ada beberapa tempat yang biasa dijadikan persembunyian di kamar ini. Sela menaiki kasur berupanya meraba-raba di atas lemari. Rupanya tidak ada di sana. Sela turun dari kasur, lalu mengangkat bantal yang tergeletak di kasur. Berharap handphone yang ia cari ada di sana. Namun ternyata handphonenya tidak ada di bawah bantal. Sela tak menyerah, yah memang siapa yang mau menyerah jika handphonenya hilang? Satu menit berlalu, Sela akhirnya menemukan handphonenya ditumpukan pakaian yang ditaruh diatas koper. Sela buru-buru berlari setelah melihat baterai handphonenya tinggal 92%. Dia mengambil charger handphone mulai memasukkannya ke stopkontak. Sebelum charger itu masuk ke stopkontak, Sela yang malang tak sengaja menjatuhkan handphonenya. Dia terperanjat kaget namun tak berteriak, sepertinya dia hanya berteriak dalam hati. Dia memungutnya kembali, lalu mengecek apakah handphonenya rusak atau tidak.
*
Setengah jam berlalu... di sekolah.
"Pertama kali-nya loh kamu terlambat." Gadis dengan tali panjang di belakang hijabnya bersuara mengomentari temannya yang baru saja masuk ke kelas.
Sela mengetuk-ngetuk meja di depannya dan menunduk memandang temannya yang sedang duduk. "Masa sih? Aku udah buru-buru datang ke sini cepat-cepat."
"Berarti ngebut?" Tuduhnya tanpa banyak pikir.
Sela mulai duduk di kursinya yaitu bersebelahan dengan gadis itu. "Enggak, cuman 50 Km/jam." Jawabnya sekenanya yang membuat temannya membelakkan mata. "Sel, itu namanya ngebut. Biasanya juga cuman 40 Km/jam. Apanya yang ngga ngebut namanya?"
Sela hanya mengangkat dagu malas mendegarkan ocehan gadis dengan nama Aisyah tapi di panggilnya dengan Ci. "Ah masa bodo lah... yang penting aku sampai ke sekolah. Oh iyah.. Ci kamu kan peramal... pasti tau dong kenapa aku terlambat." Sela menyenderkan punggungnya ke kursi di sebelah teman sebangkunya.
Ci mendengus kasar dan berusaha sabar meladeni temannya yang suka dengan hal yang berbau ramalan. "Dengar yah Sel darah merah, aku bukan peramal. Paling cuma kira-kira." Ucap Ci mengelak. Dia tahu pasti Sela hanya ada maunya.
"Kebiasaan kamu Ci, panggil aku dengan nama Sel darah merah. Sekalian aja Sel darah putih, Sel T, dan Sel-luler." Sela terkekeh pelan tak menanggapi ucapan ketus Ci yang berharap Sela berhenti membicarakan hal itu.
"Boleh-boleh kalau kamu mau." Kata Ci yang sebaliknya, yaitu senang menanggapi candaan temannya.
"Udah ah.. males debat sama kamu. Oh ya kalau handphone kita jatuh ke lantai pertanda apa yah?" Sela mulai menceritakan permasalahannya.
Ci mengernyit, "handphone? Jatuh?.... ouh itu pertanda mau dilem biru."
"Lem biru? Apaan tuh? Lem yang warnanya biru?" Tanya Sela dengan polosnya tanpa curiga sebab tidak tahu itu adalah jokes yang sedang musim sekarang.
"Bukan itu Sel, tapi lempar ganti yang baru." Canda Ci temannya sambil tertawa terbahak-bahak.
Sela lantas melipat wajahnya, padahal dia kan bertanya serius. "Ah! Ngelawak yah? Lagian ngga tak lempar. Cuman ngga sengaja jatuh aja."
Berhentilah percakapan mereka berdua sebab bel sudah berbunyi 5 detik setelah Sela duduk di kursinya sehingga Sela tak lagi membicarakan permasalahannya. Kemudian sepulang dari sekolah hal sial menimpanya kembali. Setelah membereskan diri dan makan siang Sela kembali memeriksa handphonenya sambil rebahan santai di kasur menunggu waktu sore datang. Tak berlangsung lama handphone yang dipegang olehnya tersenggol dan jatuh ke lantai. Sela refleks berteriak, "aww! jatuh lagi!!"
Adiknya yang ternyata berada di ruang sebelah kamarnya berseru, "jatuh terus sih? Bentar lagi rusak deh. HAHAHA"
Sela memungut handphone-nya dan membolak-balikannya berharap benda berharga itu baik-baik saja. Ocehan adiknya yang super ngeselin itu membuatnya merasa risih. "Apaan sih? Baru 2 kali ngga mungkin rusak."
"Kalau rusak gimana? Jatah tabungan kakak bakal diambil kan?" Ucap adik Sela menakut-nakuti.
Sela sesegera mungkin mengecek handphone miliknya. Memutar-mutar, kanan ke kiri, membukanya apakah ada yang salah. Baginya ini adalah hari yang tidak beruntung. Temannya Ci yang suka meramal ogah mendengarkan ceritanya. Sela khawatir hal buruk bakal terjadi kalau temannya Ci, tidak mau memberitahunya tentang ramalan yang akan terjadi ke depannya. Biasanya memang begitu. Itulah mengapa Sela menanyakannya pada Ci temannya. Percaya atau tidak, Ci memang sering meralamal sesuatu tentang kejadian ganjil yang dialami teman sekelasnya.
"Kamu hebat Ci! Bisa ngeramal!" Puji Sela sewaktu ke tiga kalinya dia meramal hal dengan tepat.
"Dengar yah aku bukan peramal! Jangan musyrik Sel! Jangan percaya sama hal beginian." Ci tidak mengangap serius pujian itu dan berharap otak temannya bisa berfungsi secara normal karena sudah mempercayai hal yang tidak patut dipercayai.
"Loh-loh. Yang ngeramal kan kamu. Coba kalau kamu nggak bilang kalau besok ada pemadaman listrik di daerahku. Pasti aku ngga bakal beli lilin, buat belajar."
Ci hanya tertawa. "Aku udah jelasin sama kamu kalau aku dapat info dari medsos."
"Terus gimana yang waktu kamu bilang aku bakal mengalami kecelakaan?" Sela bertanya lagi seolah memastikan yang dilakukan temannya itu ramalan sungguhan.
Ci kembali tertawa. Yang ini lebih keras dari pada yang tadi. "Kamu kurang hati-hati akhir-akhir ini. Jadi aku suruh kamu lihat-lihat jalan. Itu cuma kebetulan."
Sela masih tidak percaya penjelasan temannya. "Ya-ya mungkin. Kalau zodiak gimana? Dan keberuntungan yang kita dapat gimana?"
"Kalau gitu. Kamu takut jadi orang yang nggak beruntung Sel." Perkataan Ci yang satu ini amat misterius. Gara-gara itu Sela terdiam cukup lama. Ucapan sahabatnya lebih terdengar menyinggung dirinya yang berharap akan keberuntungan.
Selama ini Sela hanya gadis yang tak bisa apa-apa selain pasrah menghadapi sesuatu. Meski dalam gelora permasalahannya ada celah yang bisa dilewati Sela, ia memilih pasrah. Baginya itu adalah jalan keluar yang praktis. Yaitu tanpa mengeluarkan banyak usaha. Ketika Sela sedih dia akan pasrah dan memilih menangis sekencang-kencangnya. Apa lagi selain menangis jika harus berusaha keras menahannya?
Ci adalah sahabatnya yang senantiasa memberikan solusi. Sela berpikir perkataan Ci adalah ramalan yang menyelamatkan hidupnya. Ketika dia sedang kesulitan belajar, Ci akan menebak nilai Sela akan menurun. Ci menawarkan diri membantunya belajar. Alhasil berkat Ci, Sela tak memperoleh nilai kurang karena dia belajar. Ci selalu bilang usaha tak menghianati hasil. Usaha nomor satu, keberuntungan hanyalah bonus karena kita sudah bekerja keras.
"Tapi Zodiak?" Otak Sela masih sekeras batu. Dia tidak mau melihat fakta yang ada.
"Aku sudah bilang kan-" belum usai Ci menjelaskan Sela menyela dengan medesak.
Sela menggeleng. "Bukan! Sifatku? Kenapa berbeda dengan yang ada di ramalan?" Ci menatap Sela serius, wajahnya berubah tegang.
"Bukannya sudah jelas sifat manusia tidak bisa diukur secara luas dengan permalan dan perkiraan. Semua yang kukatakan hanya kebetulan. Usaha tuk memperbaiki adalah yang utama." Jelasnya dengan serius pada waktu yang lalu. Sela masih ingat hal itu, ketika Ci menjelaskan tapi Sela masih buta mengerti apa maksudnya.
**
Di sore hari Sela yang masih resah akan nasib malang handphone-nya mengadu pada Ci lewat telephone milik mamahnya.
"Masalah HP mu yang terus jatuh... sebab memang HP-mu harus ganti kan?" Jawab Ci pada akhirnya setelah berdebat dengan Sela perihal ramalan.
Sela terdiam lagi. Namun kalimat terakhir sangat menyindirnya. "Ouh ya? Kamu bisa menebak hp baru apa yang akan aku beli dengan seisi tabunganku nanti?" Sela mendelik.
Ci tertawa sambil berpikir. "Tidak dengan merek apa-apa." Katanya datar.
Sela mengerutkan kening. "Tunggu, katanya hpku bakal rusak? Terus ganti yang baru. Tanpa merek bagaimana?"
"Maksudku bukan kamu yang membeli hp nya." Katanya singkat.
"Loh kok? Serius deh ini," Sela seratus persen tak mengerti ucapan temannya.
"Serius kok. Orang tua kamu yang bakal beliin." Ucap Ci tenang dan langsung dibalas respon terkejut dari seberang telephone.
"Apa!?" Sela membulatkan mata. "Kamu sedang meramal lagi?"
"Sudah kubilang aku hanya menebak. Yang pasti kalau gak Samsung pasti Oppo." Perkataan Ci terlihat serius sehingga membuat Sela merasa sahabatnya sedang meramal.
"Wah aku sih maunya Oppo kalau ramalanmu benar Ci." Kata Sela akhirnya dengan wajah sumringah.
Sedangkan di seberang Ci menahan tawa sambil terbatuk-batuk karena tak percaya ucapan Sela barusan. "Kalau aku sih mending Samsung."
"Kenapa?"
"Kalau Oppo seadanya sih.."
"Hah?"
"Iya Oppo, oppo ana ne. BWAHAHAHA."
"Ya ampun. Ngaco bener deh kamu Ci."
**
Sela berjalan lesu melintasi kamarnya. Dia ingin makan apa saja. Dia sedih melihat HP itu sungguhan rusak total. Semua nomor, pesan, tugas-tugas sekolahnya, media sosialnya hangus. Tanpa benda tipis itu dia rasanya ingin runtuh. Mana ada naskahnya lagi....
Sela ingin menenggelamkan semua imajinasi yang dia ketik dengan menyibukkan diri makan sepuasnya. Setelah makan dia termenung sudah. Naskahnya tidak dia pindah ke laptop. Cerita tentang kisah sialnya sudah tinggal kenangan.
"Mana HP mu?" Tanya ayah Sela ketika mereka kumpul di ruangan keluarga. Sela menyerahkan HP pembuat kesialan pada ayahnya. "Hmmm," ia membuka isi hp itu dan memperhatikan batrainya. Dia menerawang dan mengocok-ngocoknya. "Batrainya menggelembung, harus diganti."
Jantung Sela serasa meloncat dari tepi jurang. Dia terdiam menatap ayah dan hp nya bersamaan. "Bukan HP nya yang rusak? Ternyata batrainya?"
"Iya lihat?" Kata ayahnya sambil mencopot batrai yang telah berubah bentuknya lebih besar. "Kamu kebanyakan nge-cas sih. Lihat rusak kan? Besok ayah beli batrainya."
Tiba-tiba perasaanya mendadak semakin buruk, tapi anehnya dia sedikit bernafas lega. "Tunggu, ayah gak beliin Sela hp baru?"
Kepala ayah sela dimiringkan dengan mimik wajah heran. "Buat apa? Masih bagus kan?"
Sela tidak tahu harus beraksi apa. Dia kesal dan kecewa karena ramalan Ci tidak menjadi nyata. Mungkin sebaiknya dia harus mulai menerima kenyataan bahwa tidak ada yang namanya ramalan, tidak ada sesuatu yang bisa ditebak kecuali bila kita menyadari bahwa takdir mungkin terjadi. Baik buruk nya hanya tuhan yang tahu. Ya, Sela telah berjanji untuk tidak pasrah terhadap hidupnya, dia harus berusaha meski takdir yang muncul tak sesuai dengan apa yang dia harapkan. Yang pasti Sela senang ceritanya masih bisa dilanjutkan. Agar semua orang yang membaca kisahnya harus lebih hati-hati, tidak melulu bergantung pada keberuntungan, tapi harus dengan kerja keras, berusaha dan jangan lupa untuk berdoa. Karena sejatinya akhir dari menghadapi musibah adalah doa dan lantas pasrah padanya. Yang terpenting dari ini adalah jangan berharap, apalagi dengan manusia.
Tamat.
Komentar
Posting Komentar