Langsung ke konten utama

Tradisi yang sama

Mengingat waktu itu...

Ingatkah engkau kemarin?
Ketika hari penuh dengan bintang kumenatikanmu tak sabaran.
Ingatkah itu?
Ingatkah jika aku pernah membuatmu jadi yang paling kusayang?
Ketika gelap dan pekatnya malam bukan lagi jadi penghalang.
Antara kita.
Ingatkah bahwa aksara semesta menautkan jarum dan benang?
Seperti kita. 
Tahukah engkau siapa kain yang akan kita jahit bersama?
Ya mimpi kita. Harapan kita. Tujuan kita.

Saat lelah menyudahi keringat kumenunduk.
Sudah sejauh ini kaki melangkah
Namun bisakah kerja keras ini memberi upah?
Saat menggigil kedinginan kumendongak.
Mimpi masih jauh nun di sana.
Bisakah aku gapai mereka lagi?
Setelah berpuluhan kekecewaan dan penyesalan datang membajiri?
Aku hanya ingin menggapainya.
Jari jemari putih pucat menutup cahaya bulan. 
Bintang berkedip penuh arti.
Aku hanya ingin bersama.
Diantara semesta yang merayuku ke angkasa.
Aku hanya mencoba yang terbaik.
Dari golongan orang tercabik.

Mulai Mencari...

Kemana engkau berada
Di malam sunyi atau gemerlap engkau dulu ke sini 
Bukan seperti ini yang bersembunyi 
Bukankah sudah waktunya tiba?
Persis seperti tahun lalu
Engkau melayang tidak malu
Menampakkan cahaya yang tak jarang diacuhkan 
Merelakan diolok-olokan
Jangan kata kini kau lelah
Sungguh aku masih di sini menanti
Kutak mau semua hanya jadi pusara
Hilang di gelapnya malam

Masih belum ditemui...

Kelabu mencampur padu
Merah pucat menjadi satu
Ketakutan di depan mataku
Tak mendapatkan yang kumau
Fajar menyingsing hari
Membiarkan cahaya lewat sambil menari-nari
Pagi semakin kujaumpai 
Namun bintangku hilang ditinggal pergi

Tak kutemukan engkau di sore hari 
Bahkan di malam hari 
Aku percaya engkau datang esok pagi
Ketika mata manusia memilih merunduk
Aku mendongak 
Sama seperti setahun lalu engkau di sana
Bersinar seorang diri
Sepi menyesakkan hati


Fajar Indah Menyingsing...

Kekuatan hati tak terpecahkan
Mendengar bisik-bisik kecil
Menarik pendengaran yang sudah dimakan usia
Cantik.
Bukan malam yang dulu engkau buat jadi istana
Kini fajar menerawang wajahmu yang terus terang benderang.
Ungu dan abu-abu 
Abadi meski kelam
Beradu memisahkan cakra alam

Kekuatan hati tak terpecahkan
Masih kusunggingkan senyuman 
Hingga lupa caranya menahan air mata.
Melihatmu di tempat yang sama meski di waktu yang berbeda
Tak lama lagi sudah
Nirmala akan menjadi aksara kata-kata tiada dua
Dan kita nikmati waktu dekat ini bersama.



PUISI-PUISI CINTA 5 . 9

Hampir dekat sebentar lagi
Skakmat akan kulumat
Pion-pion catur terus melaju
Otak terus berbuat memikirkan cara
Strageti andal yang bisa meluluhlantahkan dunianya
Bintang di langit malam bertebaran 
Tipis rasanya jika dilihat sambil menerawang 
Mataku tak bisa langsung melihat dengan satu tatap
Lucu terkadang.
Tapi bintang yang pemalu akan pura-pura tak tahu...
Memilih dilirik dalam sekali tarik
Seperti Raja licik yang menajamkan indranya tanpa harus sekali tatap
Otak dan perasaan menjalankan kotak putih itu
Degup kencang menuju skamat
Ucapan selamat pada putih untuk bintangku 
Yang mau bersekutu

Gumpalan-gumpalan rasa kekecewaan membuatku kalut 
Berbagai perasaan tidak mampu larut
Butiran-butiran kasar material tak menyatu dalam air
Masih kuraba hati ini beriak
Meneriakan kekesalan yang terus terisak
Di relung jiwa yang tak akan terkuak
Benarkah aku kecewa
Kemana jejak engkau berkelana
Bukan sudahkah engkau seharusnya tepat di sana
Bukannya di mana-mana?
Yang arah datangnya tiba-tiba.

Bulan.... cahaya indah
Tapi bintang milikku jauh lebih indah
Bulan.... tempatmu bertenger itu masih sama
Tapi kenapa bintangku tak hinggap bersama?
Bulan... sabitku mengingatkanku akan alis di atas mata yang terangkat
Seperti saat menyaksikan bintang bersinar kuat
Bulan... kenapa kau sendiri?
Mengapa aku yang merasa sepi?
Kemana kah kawanmu itu?

Terasa ombak bergelung lambat
Deburannya meninggalkan luka sayat
Kedinginan yang hinggap membuat senja seperti satu abad
Tak kujumpa kau di sana
Iris tipisnya tak terlukis juga
Kanvas jingga yang indah tak membuatku jatuh terpana
Kekhawatiranku meraja rela
Tak menemuimu yang ingin kujumpa





Oleh: Virga Cahya Sepyani 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Quotes Berharga dari Buku: Berani Tidak Disukai

    Buku ini mengingatkanku akan novel filsafat karya Jostein Gaarder berjudul Dunia Shopie yang tebalnya bisa buat bantal tidur. Halamannya ngga terlalu banyak cuman 300-an, terus isinya condong ke arah psikologi dan juga filsafat. Gaya penyampaian yaitu dengan diskusi dua arah antara filsuf dan seorang pemuda. Anonim saja. Terkait tokoh tidak perlu dipusingkan. Karena sorot utama dari buku ini adalah isinya. Kenapa bisa mirip (sedikit) dengan Dunia Shopie? Itu disebabkan pendekatan solusi yang diberikan penulis pada buku ini menggunakan dialog atau diskusi. Jadi langsung to the point antara sang tokoh alias pemuda yang gelisah dengan hidupnya yang terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan kepada sang filsuf. Hal yang sama berlaku pada Shopie yang menanyakan hakikat hidup, dunia dan seisinya pada seorang filsuf dengan media surat. Intinya keduanya mengarah ke satu titik yakni :Why? Alias bertanya. Untuk memahami buku ini tidak cukup satu kali, bahasanya yang cu...

Review Novel: Ranah 3 Warna

Hey kembali lagi dengan aku yang sudah menghilang tak kembali pulang... Pertama-tama aku buat blog ini secara tidak sengaja. Bagi kalian yang sudah mengikuti akun ig ku mungkin tahu lah ya... kalau aku adalah reviewer... booksgramer atau apalah itu. Dan kali ini aku mau review novel yang baru selesai kubaca. Ini novel best benget deh, saking bestnya reviewku gak muat di caption Ig. Karena aku gak tahan buat agak sedikit spoiler, aku masukin review selengkapnya di blog ini. Semoga setelah membaca reviewku kalian tertarik membacanya. Tapi sejujurnya aku pingin minta kalian baca novelnya karena bagus banget. Simak reviewku di bawah ini ya.. 🍁🍁🍁 Novel Ranah 3 Warna ini merupakan buku ke dua dari trilogi novel Negeri  5 Menara yang fenomenal. Menceritakan kembali perjuangan Alif si mantan anak Pondok Madani yang memiliki impian seperti BJ. Habibie yang bisa berkuliah di ITB jurusan Penerbangan dan bisa merantau ke negeri orang yaitu Amerika. Tapi sebagai anak lulusan pondok, dia haru...

REVIEW NOVEL TERE LIYE: HUJAN

Tebak kapan terakhir kali aku membaca karya Tere Liye? Bulan Januari! Tidak begitu lama ya kan. Sekarang novel Hujan karyanya baru saja kutamatkan. Semenjak membaca dari awal hingga pertengahan aku merasa ada yang mengganjal alias kurang sreg. Aku senang ketika kebagian juga membaca buku itu, tidak terhitung lagi hampir 2 tahun lebih mengantre tidak dapat-dapat saking banyaknya yang ingin meminjam. Dulu meminjam pertama di Ipusnas, gila betul ada puluhan ribu orang mengantre buku itu. Se hit apa sih? Apa betul seperti kata orang-orang kalau novel Hujan itu sebagus itu? Mendem ngantre di Ipusnas aku beralih ke RBK. Sama-sama antre tetapi lebih baik. Toh setelah hampir 1 tahun aku dapat juga.  Dari segi alur nya emang ringan tapi anti mainstrem yakni kehidupan manusia tahun 2040 yang semuanya serba canggih, pakai teknologi, tenaga manusia mulai jarang dipakai (ini bagian yang paling ngga aku suka, rasanya pengin protes), ilmu pengetahuan menjadi solusi utama umat manusia. Namun berb...