Langsung ke konten utama

Resensi Novel Sepasang Sepatu Tua by Sapardi Djoko Damono



Judul Buku: Sepasang Sepatu Tua

Penulis: Sapardi Djoko Damono

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama 

Tahun Terbit: 2019

Jumlah Halaman: 112

ISBN 978-602-06-2672-7

EISBN 978-602-06-2673-4

Genre: Cerpen-Sastra

Status: E-book pinjaman

Sumber: Ipusnas 

Sinopsis Cerpen Sepasang Sepatu Tua-Sapardi Djoko Damono

Pada suatu malam, ketika keluargaku kebetulan pulang kampung, aku dikagetkan oleh suara keras mereka. Apa mereka bertengkar? Kudengarkan baik-baik. Yang kiri mengatakan dengan lantang bahwa mereka sebenarnya tidak berasal dari kulit sapi yang sama.

"Mana mungkin!" kata yang kanan menegaskan. "Kita berasal dari seekor sapi. Kulitnya yang lebar itu disamak, lalu dipotong-potong dengan mesin untuk membuat kita. Kulit seekor sapi cukup lebar untuk membuat beberapa sepatu, tahu!"

"Ya, tapi bisa saja potongan-potongan itu bercampur sehingga tidak jelas lagi berasal dari kulit sapi yang mana. Kita ini asalnya berbeda. Aku jelas sapi Jerman, kau entah sapi apa, mungkin sapi Prancis."

*

Sepasang sepatu yang bertengkar, arak-arakan kertas yang berjalan di malam hari, rumah yang saling menyindir, adalah beberapa cerita dari buku ini. Di buku ini, beberapa benda menjelma menjadi pencerita yang piawai. Lewat benda-benda mati yang berkisah itu, manusia seakan diingatkan kembali akan kemanusiaannya. 

Sepasang Sepatu Tua ditulis oleh Sapardi Djoko Damono, penulis prolifik peraih Lifetime Achievement Award Ubud Writers & Readers Festival 2018 dan ASEAN Book Award 2018.

***


Resensi Cerpen Sepasang Sepatu Tua-Sapardi Djoko Damono 

Setelah sekian lama menunggu waktu yang tepat. Aku memutuskan untuk membaca buku ini. Ada banyak pertimbangan, tapi setelah kesalahan pengembalian. Justru buku ini datang sendiri setelah aku berusaha merelakan. Ah! Tak penting. Anggap itu hanya gurauan, begitu kata Sapardi. Siapa sih yang tidak mengenal beliau? Sastrawan Indonesia yang mendapat banyak penghargaan. Cerita-ceritanya memang relevan menyulitkan tapi kaya akan makna. Puisi-puisinya menyentuh hati. Beberapa novelnya juga ada yang diangkat menjadi film. 

Aku mengenal sosok Sapardi dari penulis idolaku yaitu Tsana. Semakin aku mempelajari tetang Tsana semakin aku tahu akan sosok pujangga puisi idola Tsana yaitu Sapardi. Puisinya sangat terkenal. Dan itu juga yang memutuskanku untuk membaca karya Sapardi mulai dari cerpen-cerpennya yang keren abis.

Sapardi Djoko Damono memiliki maksud dan tujuan tertentu dalam membuat cerpen-cerpen ini. Beberapa cerpen menunjukan hakikat benda-benda mati yang dapat berbicara menuangkan rasa seperti manusia. Ketika layaknya membeli sepasang sepatu yang tak peduli berapa harganya, apa mereknya dan sedang trendi atau tidak. Keinginan itu kuat. Sapardi menuangkan pikiran dan perasaanya lewat cerpen berjudul Sepasang Sepatu Tua. Menceritakan sepasang sepatu yang mencintai penggunanya dan juga sebaliknya. Si empu sepatu yang dengan mudahnya senang dibeli setelah sekian lama tidak ada yang membelinya. Sepatu butut atau norak mungkin itu padangan orang lain ketika memandang pertama kali. Tapi dari dalam cerpen ini Sapardi memberikan pandangan berbeda. Hakikatnya adalah rasa, tanpa peduli orang lain menilai buruk. Pemakainya tidak mempermasalahkan ketika sepasang sepatunya bertengkar dari mana mereka berasal. Sepatu itu menyayanginya dan juga dia sama. Semua lebih dari cukup. 

Tulisan Sapardi mewakilkan perasaaan sesungguhnya dari arti memiliki benda berharga. Penulis mengajarkan kita untuk menyayangi benda. Mereka bisa saja mampu berbicara. Menggerutu pada kita yang tidak merawatnya. Belajar menghargai benda yang kita beli dengan uang, sekiranya mereka masih bisa digunakan kenapa harus dibuang?

Rumah-Rumah
Bukan orang atau si penulis sendiri yang berpiawai menjadi sastrawan dari cerpen dengan judul Rumah-Rumah. Sapardi mencoba mengubah para benda-benda mati bercerita. Mereka adalah rumah. Yang bersebelahan dan saling bertetanggaan. Ada 3 rumah, yang pertama rumah nomer 11, 13, dan 15. Ganjil semua ya guys. Rumah, bisakah mereka memilih tuan-nya sendiri? Itu pertanyaan dari rumah nomer 11. Mungkin jika ia dilahirkan kembali, dia tidak ingin jadi rumah. Keluarga yang tinggal itu adalah troble maker, bagi tetangga sampingnya. Tapi paling-paling dia hanya menggerutu bukan pada rumah nomer 11 tapi pada Saudara. Ya! Kaget kan? Ouh apa salahku? Hei rumah nomer 13?

Rumah itu sederhana tapi tuannya meninggalkanya dan mengontraknya tapi naas belum ada seorang pun tinggal di tempat itu. Padahal rumah nomer 13 itu sudah telanjur mencintai pemilik yang membeli tanah untuk membangunnya. Sungguh rumah itu bersungut-sungut tidak mau dikontrakkan. Tapi yang harus diwaspadai jika kalian membacanya, hati-hati rumah itu akan meminta Saudara tinggal, hahahaa! Bahkan sampai mengejek tidak punya uang.

Tapi bagaimana yang nomer 15? Dia lebih menyedihkan. Rumah itu lebih luas, tapi Tuan yang membangun rumah itu bangkrut, dan mengontrakkan rumah yang belum lahir atau masih dalam kandungan itu. Rumahnya diabaikan, bahkan nomer 13 mengatainya sebagai rumah hantu. Padahal yang tinggal hanyalah tanaman ilalang, lumut yang makin tebal dan hewan-hewan tersesat. Percayakah hantu itu ada? Tanyanya. 

Arak-Arakan Kertas
Sapardi kembali mengajak kita berimajinasi. Agak diluar dugaan ketika menyimak apa yang dimaksudkan. Lagi pun imajinasi Sapardi kaya akan sastra, ketika para kertas tidak bisa berbicara seperti sepasang sepatu dan rumah melainkan berubah menjadi anak-anak kecil yang banyak jumlahnya. Atau cicak, yang dianggap sebagai teman malam. Liar memang.

Seorang Rekan Di Kampus.....
Kalau pada suatu hari kamu bertemu orang gila, turunlah dari mobil, dekatilah dia dan tanyakan baik-baik mengapa ia gila. Maksudnya mengapa ia memilih menjadi orang gila. Kamu tau kita boleh memilih jadi orang waras, orang sakit, orang bingung, orang yg selalu merasa tidak ada yg memberi perhatian, dan karenanya stres, orang yg suka marah-marah karena pangkatnya tidak naik-naik dan sebagainya. 

Tinggal memilih yang mana, tetapi janganlah memilih menjadi orang gila. Kamu tentunya juga tahu, bahwa pilihan jadi gila itu sangat berat syaratnya dan sangat besar tanggung jawabnya. Sebab, hanya orang yg benar-benar tebal imannya yg diloloskan menjadi gila--Sapardi Djoko Damono(Sepasang Sepatu Tua)

Berikutnya Sapardi mengajak kita untuk merenung berpikir dua kali akan hal yang sangkut pautnya dengan orang gila. Pernahkah kamu bertanya pada orang gila mengapa ia gila? Ini malah jadi pertanyaan yang gila ya kan. Sapardi mengabadikan jawaban ini di dalam cerpen ini. Singkat, tapi jelas. Ia meminta kita untuk memandang orang gila dari sudut pandang lain. Apakah orang yang dianggap gila itu sadar bahwa dirinya gila? Kita jadi belajar bersama akan pentingnya memilih hidup. Karena kita bisa jadi apapun, tapi jangan sekali-kali kalian memilih menjadi orang gila.

Membunuh Orang Gila
Menurutku cerita dengan judul membunuh orang gila ini keren sekali. Ya karena bisa menguras otak, berputar-putar membacanya tapi belum menemui jawabannya juga, ketika ketiga kalinya. Ah! Begini maksudnya, ya.. ya. Aku mengangguk-angguk kagum, sampai baru sadar ini cerita yang memusingkan kepala. Dikisahkan si orang gila yang sering tokoh aku temui ini menabrak mobilnya. Yah katanya orang gila itu yang menabrak. Tataulah. Orang gila itu tidak tau atau tidak sadar kalau si tokoh aku itu sering tersenyum setiap kali bertemu dengan orang gila itu. Tapi mungkin untuk kesekian kalinya ketika si aku itu tersenyum padanya, ia justru lari ketakutan. Dan menabraknya.

Sapardi membuatku memperhatikan dengan seksama memandang orang gila itu, bagaimana si aku itu justru menganggapnya sahabat. Tapi betulkah? Orang gila itu benar-benar gila. Atau dia hanya korban revolusi? Dulunya pada zaman Belanda mana ada orang gila bergentayangan di jalan, semenjak zaman Jepang banyak orang yang kelaparan, hingga sekarang masa revolusi berganti banyak sekali orang gila bertumpukan di kota. Benar kah begitu? Korban perubahan keadaan, lalu mengapa pula si orang gila itu ingin menabrakkan diri? Meski begitu ia sedih, sahabatnya yang telah mengisi pulang-pergi perjalanan sekarang telah tiada.

Ketika Gerimis Jatuh 
Mengisahkan seorang gadis kecil yang tinggal di rumah seorang diri dengan pembantu yang tinggal tidak sepanjang hari. Orang tuanya pergi bekerja, tapi setiap hari dia bermain bersama teman-temannya tapi ketika itu hujan menyisakan gerimis diselingi hujan deras. Dia menunggu ayahnya pulang, dia khawatir pada ayahnya, sangat khawatir. Kerena dia takut ayahnya basah kuyup akibat gerimis itu. Gadis kecil itu berseteru dalam hati, akan kekhawatirannya. 

Sekian lama kekhawatiran itu akhirnya dia memantapkan diri untuk membawa kan payung untuk ayahnya. Dia menunggu di bawah pohon asam, tempat biasa ayahnya memberhentikan angkot yang dia ditunggangi. Hampir magrib, dia menunggu... ayahnya belum tiba juga. Namun suara telepon di rumahnya terus bersering. Sapardi memang membuatku bingung. Apa yang sebenarnya ingin disampaikannya? Yang pasti gadis ini sangat menyayangi kedua orang tuanya meski jarang menunjukkannya berlebihan yang biasa dipikirkan kita. Menunggu ibunya tak kunjung menelpon, membuatku merasa was-was.

Penderitaan Anak Tiri 
Lagi-lagi aku dibuat bingung dengan karyanya yang ini. Ohh adakah yang dapat membantu? Baik akan kuceritakan. Di dongengkan cerita tentang seorang anak yang diasuh oleh ibu tirinya. Meskipun ibu tirinya menyayanginya ia tidak pernah mendapatkan ciuman di pipi dari ibu atau ayahnya. Ketika pelajaran bahasa dia mendapatkan tugas untuk mengarang cerita pendek tema bebas. 

Ia pun bingung apa yang harus ditulis, melihat kesedihannya merindukan ciuman di pipinya dia mengarang cerita yang membuat gurunya menyuruhnya membuat cerita lagi minggu depannya. Ketika giliran dia maju belum selasai menuntaskan ceritanya ibu gurunya mengkritiknya. Lalu menyuruhnya kembali menulis dan memperbaiki. Anak itu merasa bingung yang ia tahu karangannya itu sudah terbaik. 

Ketika di rumah dia melihat ibu dan ayahnya saling mencium pipi bergantian tapi anak yang malang itu tidak mendapat jatah apa-apa. Akhirnya dia memutuskan untuk membuat cerita tentang seorang anak yang ingin mencium pipinya sendiri tetapi tidak meskipun jaraknya berdekatan bahkan tidak berjarak. Kasihan sekali anak tersebut mengharapkan dicium tapi saking sedihnya dia menceritakan penderitaanya tidak bisa mencium pipi sendiri. Aku jadi ikut masuk ke dalam cerita yang rupanya sebatas dongeng saja.

Masih banyak judul-judul lainnya yang belum semuanya kujelaskan secara rinci. Intinya baca saja buku-nya bila suka. Ada beberapa judul yang mengisahkan tentang masa lalu seperti Ken Arok dan Ken Dedes yang diganti versi Sapardi sendiri. Gaya khasnya memang ribet tapi dijamin bikin terpikat. Jujur ada satu judul yang tidak bisa aku pahami meski berkali-kali membacanya. Sampai-sampai mendekati akhir aku baru bisa paham. Setiap dialog disusun sedemikian rupa supaya membuat pembaca berpikir. Tapi itu lah sisi menariknya cerita ini. Semakin bahasa sastranya tinggi-semakin sebal membacanya-dan akhirnya justru jatuh cinta dengan karyanya.

๐Ÿ‘žKita patut paham betul banyak hal yang kurang dimengerti. Di salah satu judul kita dibuat memahami sudut pandang orang gila dengan mencoba mengajak berbicara. Ini unik sekali. Setiap membaca judul per judul aku merasa diberi makna hidup, dan pelajaran yang penting dengan caranya yang tersirat.

๐Ÿ‘žSetiap judulnya aku dibuat kagum, pusing dan merenung betapa banyak hal yang perlu diperbaiki. Menyaksikan kehidupan kecil lewat sepilihan cerpen karya Sapardi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Quotes Berharga dari Buku: Berani Tidak Disukai

    Buku ini mengingatkanku akan novel filsafat karya Jostein Gaarder berjudul Dunia Shopie yang tebalnya bisa buat bantal tidur. Halamannya ngga terlalu banyak cuman 300-an, terus isinya condong ke arah psikologi dan juga filsafat. Gaya penyampaian yaitu dengan diskusi dua arah antara filsuf dan seorang pemuda. Anonim saja. Terkait tokoh tidak perlu dipusingkan. Karena sorot utama dari buku ini adalah isinya. Kenapa bisa mirip (sedikit) dengan Dunia Shopie? Itu disebabkan pendekatan solusi yang diberikan penulis pada buku ini menggunakan dialog atau diskusi. Jadi langsung to the point antara sang tokoh alias pemuda yang gelisah dengan hidupnya yang terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan kepada sang filsuf. Hal yang sama berlaku pada Shopie yang menanyakan hakikat hidup, dunia dan seisinya pada seorang filsuf dengan media surat. Intinya keduanya mengarah ke satu titik yakni :Why? Alias bertanya. Untuk memahami buku ini tidak cukup satu kali, bahasanya yang cu...

Review Novel: Ranah 3 Warna

Hey kembali lagi dengan aku yang sudah menghilang tak kembali pulang... Pertama-tama aku buat blog ini secara tidak sengaja. Bagi kalian yang sudah mengikuti akun ig ku mungkin tahu lah ya... kalau aku adalah reviewer... booksgramer atau apalah itu. Dan kali ini aku mau review novel yang baru selesai kubaca. Ini novel best benget deh, saking bestnya reviewku gak muat di caption Ig. Karena aku gak tahan buat agak sedikit spoiler, aku masukin review selengkapnya di blog ini. Semoga setelah membaca reviewku kalian tertarik membacanya. Tapi sejujurnya aku pingin minta kalian baca novelnya karena bagus banget. Simak reviewku di bawah ini ya.. ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ Novel Ranah 3 Warna ini merupakan buku ke dua dari trilogi novel Negeri  5 Menara yang fenomenal. Menceritakan kembali perjuangan Alif si mantan anak Pondok Madani yang memiliki impian seperti BJ. Habibie yang bisa berkuliah di ITB jurusan Penerbangan dan bisa merantau ke negeri orang yaitu Amerika. Tapi sebagai anak lulusan pondok, dia haru...

REVIEW NOVEL TERE LIYE: HUJAN

Tebak kapan terakhir kali aku membaca karya Tere Liye? Bulan Januari! Tidak begitu lama ya kan. Sekarang novel Hujan karyanya baru saja kutamatkan. Semenjak membaca dari awal hingga pertengahan aku merasa ada yang mengganjal alias kurang sreg. Aku senang ketika kebagian juga membaca buku itu, tidak terhitung lagi hampir 2 tahun lebih mengantre tidak dapat-dapat saking banyaknya yang ingin meminjam. Dulu meminjam pertama di Ipusnas, gila betul ada puluhan ribu orang mengantre buku itu. Se hit apa sih? Apa betul seperti kata orang-orang kalau novel Hujan itu sebagus itu? Mendem ngantre di Ipusnas aku beralih ke RBK. Sama-sama antre tetapi lebih baik. Toh setelah hampir 1 tahun aku dapat juga.  Dari segi alur nya emang ringan tapi anti mainstrem yakni kehidupan manusia tahun 2040 yang semuanya serba canggih, pakai teknologi, tenaga manusia mulai jarang dipakai (ini bagian yang paling ngga aku suka, rasanya pengin protes), ilmu pengetahuan menjadi solusi utama umat manusia. Namun berb...