Judul Buku: Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Penulis: Tere Liye
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2010
Jumlah Halaman: 264
ISBN: 978-602-03-3160-7
EISBN: 978-602-06-0387-2
Genre: Fiksi-Roman Kontemporer-Fantasi Romantis
Status: E-book pinjaman
Sinopsis Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin-Tere Liye
Dia bagai malaikat bagi kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat, berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik.
Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.
Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.
Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah... Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun... daun yang tidak pernah membenci angin meskipun harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.
Resensi Novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin-Tere Liye
Pukul 20.00: Saat Semua Berawal Kehidupan Tania, Dede adiknya dan Ibunya berubah setelah ayahnya meninggal. Mereka terpaksa mengamen setiap hari di sepanjang jalan. Yang tak semestinya aman, terkadang panas dan hujan. Awalnya tanpa alas kaki. Membuat banyak kotoran bertumpuk di telapak kaki keduanya. Tiga tahun mereka menjalani kehidupan seperti itu. Hingga suatu ketika mereka mengamen di bus hendak pulang ke rumah kardusnya. Hal tak terduga menimpa mereka. Paku panyung tergeletak di tengah-tengah bus. Dan tanpa alas kaki Tania menginjaknya tanpa sengaja karena sedang berjalan seperti biasanya.
Sungguh ngilu membaca adegan-adegan ini. Sangat sulit dibanyangkan. Aku yang membaca berulang-ulang tak bisa dengan mudah melupakan tentang kaki Tania yang berdarah. Namun untung saja seseorang, yang dikata Tania sebagai malaikat datang padanya. Menolongnya. Menyunggingkan seluas senyuman hangat. Menghangatkan Tania yang terluka, tulus dan baik hati. Pemuda itu umurnya kisaran 20 tahunan-terlampau jauh dengan Tania, yang masih berumur 11 tahun.
Namanya Danar Danar. Sungguh ini bukan salah ketik. Memang namanya doble begitu. Aku pun terheran-heran dengan namanya. Danar telah mengubah kehidupan keluarga Tania. Membuatnya kembali bersekolah setelah 3 tahun lamanya. Membelikan makanan yang lebih lanyak, lebih enak dari sebelumnya. Danar begitu dekat di sisi Tania. Selalu memberikan semangat kepada Tania.
Pukul 20.15: Saat Pertama Kali Aku Mengenal
Konflik dimulai ketika Danar mengajak keluarga Tania ke wahana permainan. Di saat itu pula dimembawa teman perempuannya Ratna. Mereka begitu dekat, selalu menempel dan akrab dengan Ibu Tania. Di detik itu juga tanpa Tania sadari mempunyai perasaan pada Danar. Dia mengenal akan perasaan cemburu. Mungkin di telinga kalian ini sedikit aneh. Bisa-bisanya gadis berumur 11 tahun, kelas 5 SD memiliki perasaan seperti itu pada pria dewasa usia 25 tahun. Andai kata Tania adalah seorang berumur 17 atau 18 tahun, mungkin itu wajar saja tapi... ah entahlah, aku masih bingung dengan penulis dalam tujuan memberikan sebuah nuansa cerita baru. Bisa dibilang novel ini menceritakan tentang cinta yang tak lazim. Ya begitulah.
Pukul 20.21: Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Kebahagian mendadak tak bisa mudah berlangsung lama. 3 bulan sebelum Tania lulus SD, kerena sekarang Tania masuk di kelas 6... loncat satu tahun. Kata guru-gurunya dia kelewat pintar. Nah kembali lagi, tiga bulan sebelum Tania lulus Ibunya sakit parah. Selama satu tahun terakhir tidak pernah terlihat tanda-tanda Ibunya sakit. Semua kesakitan itu tertutupi oleh kebahagian setelah kehadiran Danar yang mengubah keluarganya.
Keadaannya di rumah sakit semakin kritis dan tubuhnya begitu lemah. Dan akhirnya meninggal... bagai daun yang jatuh tak membenci angin. Mengikhlaskan dirinya, jatuh begitu saja. Sungguh sedih membaca di bab ini... ada kalanya kebahagian tak selamanya bertahan pada kita. Tentu Tania sedih... yah sedih. Menyayat hati.
Pukul 20.26: Setelah Ibu Pergi!
Dua bulan sebelum Ibunya meninggal Danar menawarkan Tania untuk mengikuti ASEAN Shcolarship. Beasiswa yang memberikan kesempatan untuk bersekolah SMP di Singapura. Semua usaha berhasil sampai final assesment. Menuruti kata Danar, Tania pun pergi ke Singapura seorang diri. Bersekolah di negeri orang dengan hasil yang membanggakan. 3 tahun lamanya menghubungi dia lewat chatting. Akhirnya tiba liburan setelah menuntaskan sekolahnya dengan memperoleh nomer 2 di sekolahnya.
Selama itu juga Tania selalu merasa rindu padanya. Tak peduli umurnya sudah 30 tahun. Meski ia juga rindu pada adiknya Dede, dan mendiang Ibunya. Tetapi dia jauh lebih rindu padanya. Geli rasanya. Wajar saja... umurnya sudah 16 tahun. Sudah lebih dewasa lebih dekat mengetahui perasaannya sendiri. Tapi apakah bisa? Aneh sekali bukan.
Dia kembali ke Indonesia setelah 3 tahun bersekolah di luar negeri. Melampiaskan kerinduannya dengan memeluknya yang tiba di bandara bersama adiknya. Meski liburannya hanya sebentar... kebahagiaan semakin membumbung tinggi, ditambah Danar dan Ratna ternyata sudah putus. Yah... bagi Tania Danar sempurna untuk jadi apa saja yang berharga dalam hidupnya. Menjadi seorang Ibu, Kakak, Ayah, sahabat, teman.
Pukul 20.32: Sweet Seventeen Yang Indah.
Tania hanya sempat berlibur 1 bulan di Depok. Danar menyuruh Tania pergi kembali ke Singapura untuk melanjutkan sekolahnya. Di SMA terbaik di Singapura. Melanjutkan kembali ke rutinitas menge-chatting dia. Beruntungnya sebentar lagi Tania berumur 17 tahun. Rencananya Danar dan Dede akan pergi ke Singapura untuk merayakan sweet seventeen Tania di sana. Bersama dengan teman-temannya dan sahabatnya Anne, Tania merayakan ulang tahunnya yang ke 17. Dia 31 tahun dan Dede 12 tahun. Esoknya mereka menghabiskan liburan di Singapura sambil berjalan-jalan. Berkeliling dari satu shopping center ke shopping center lainnya. Ke toko buku terbesar yang ada di Singapura, makan malam di China Town. Dan terakhir adalah mengunjungi salah satu kampus di negeri itu. Sorenya Tania mengantarkan mereka kembali ke bandara. Sebelum berangkat dia memberikan hadiah untuk Tania. Sepasang sepatu dan satunya lionting yang berinisial T. Tania sangat terharu mendapatkan sesuatu dari orang yang dia sukai. Memang siapa yang tidak senang jika mendapakan hadiah? Apalagi dari seorang laki-laki.
Pukul 20.37: Liontin Seribu Pertanyaan
Setelah mendapat liontin itu Tania terus membesar-besarkannya. Menganggapnya sebagai Ter..... untung saja temannya Anne segera menyadarkan Tania. Aku sependapat dengan Anne. Apa benar orang yang terpaut jauh umurnya, yang lebih dewasa akan tertarik dengan remaja-remaja yang sedang sibuk-sibuknya mencari jati diri? Ya mungkin... tapi enggaklah. Di umurnya ke 18 ada sedikit informasi yang membuat hati Tania buncah dan bahagia. Meskipun itu jauh dari ekspetasinya-sangat jauh!
Tidak Tania sangka wanita paling ia benci kembali hadir di kehidupan Danar. Yah Ratna. Sebelumnya dikatakan bila Ratna sudah putus dengan Danar. Tetapi... ketika dia pulang ke Indonesia untuk memberikan surprise kepada Danar, justru Tania yang berhasil dikejutkannya. Mereka kembali bersama, seketika itu saja aku yang mendukung Anne jadi ikut prihatin dengan perasaan Tania.
Pukul 20.45: Izinkan Aku Menangis Demi Dia Ibu
Ketika acara kelulusan. Perjuangan Tania meraih mimpinya tak sia-sia. Dia akhirnya bisa meraih posisi pertama di sekolahnya mengalahkan anak yang dulu selalu nomer satu. Hanya berbeda sedikitttt sekali. Sebelum penyerahan penghargaan, dia berlari melambai ke arah Tania yang berada dalam podium. Tania pikir ini kejutan, tapi tenyata Ratna membuntuti dia dari belakang. Kebagian Tania sirna seketika. Ditambah ketika dia mengatakan untuk merencanakan pernikahan dengan Ratna... sumuanya, harapan-harapan Tania berakhir seketika ia mendengar berita bagai petir di siang hari. Mengejutkan. Memusnahkan, semuanya.
Aku mengerti apa yang dirasakan Tania. Sudah terlambat baginya untuk mengungkapkan perasaannya. Aku yang tadinya mendukung Anne jadi berputar arah... sepertinya-tidak! Seharusnya bukan Ratna-lah yang berada di samping malaikat keluarga Tania. Dan dalam akhir bab ini terbukti Anne juga sama denganku. Sama-sama keliru. Sungguh, aku ingin menangis pada bagian ini. Tania, tokoh super hebat ini akhirnya menangis setelah 6 tahun yang lalu. Untuk dia, demi dia. Menangis kalah.
Pukul 20.50: Hari-Hari Menyakitkan
Sebelum hari H pernikahan mereka, seseorang mengejutkan Tania. Yah itu Ratna. Dia datang seorang diri ke flat yang Tania sewa. Ratna berusaha sekuat Tenaga untuk membujuk Tania agar pulang dan menghadiri pernikahan mereka bersama-sama. Bagaimana mungkin sesorang harus pergi ke acara pernikahan padahal hatinya sedang sakit hati akibat lelaki yang dia cintai menikah dengan wanita lain.
Ada yang ganjil. Sikap Danar menjadi berubah, menjadi sendu. Mungkin ini akibat Tania memustuskan untuk tidak pulang. Tapi meski begitu acara pernikahan mereka tetap berlangsung, meskipun Tania seperti sedang berada di tepi jurang. Hancur, jatuh... bagai daun yang tertiup angin. Jatuh dari jurang.
Pukul 21.00: Hidup Terus Berlanjut, dalam Bentuk Apa Pun
Tania yang sekarang ini, yang sedang menceritakannya kisahnya sandiri berumur 23 tahun, adiknya 18 tahun, dan dia 37 tahun. Pernikahan itu berjalan sebagai semestinya. Tania menutup lukanya dengan membuat bangga dirinya, Ibunya, adikknya dan dia. Menyelesaikan kuliahnya dengan hasil memuaskan. Mencetak sejarah di kemapusnya. Gadis dekil, bau, cemong, kotor, itu yang mengamen setiap hari itu kini telah mengukir sejarahnya sendiri. Berkerja pada perusahaaan ternama di Asia. Demi berusaha menghapus kenangan masa lalunya yang pahit.
Pukul 20.02 : Masa-Masa Berdamai
'Orang-orang yang sedang jatuh cinta memang cenderung menghubungkan satu hal dan satu hal lainnya. Mencari-cari penjelasan yang membuat hatinya senang.' Halaman 165
Hubungannya dengan Danar sudah mulai merenggang. Semenjak pernikahan itu Danar hanya menitipkan salam lewat Dede. Tak ada skenario ke lima yang bisa dia harapkan seperti yang ada di dalam dongeng-dongeng. Kehidupannya juga mulai berubah, tapi normal. Menjalani kehidupannya dengan mengajar, membuka kelas mendongeng, dan membuka toko kue tradisional di Singapura.
Pada suatu hari Dede pergi ke Singapura mengunjungi kakaknya yang tidak ingin pulang ke kota itu. Meski rumahnya sudah kosong, hanya ada adiknya. Sepasang suami-istri itu sudah pindah ke rumah lain. Tania memilih pulang menghabiskan waktu bersama adiknya. Mengenang masa lalu yang indah, meski sekali-kali nama orang itu disebut-sebut.
Pukul 21.06: Pulang
Segala perubahan itu, keegoisan itu harus diubah-ya harus. Tania berusaha perlahan-lahan membuka diri, terutama pada cowok Singapura yang dari dulu selalu mengusiknya. Meski tak seperti dongeng-dongeng-perasannya membuka dirinya bisa langsung berbalik 180°. Tepat 8 tahun setelah wafat Ibunya. Tania berjanji akan pulang. Dibantu dengan Adi, temannya yang nampaknya terus bersabar dengan sikap sadis dan masa bodo pada cowok. Adi temannya yang juga dulu ikut beasiswa sama dengan Tania.
Hanya dari seperbanyak Laki-Laki yang mendekati Tania, hanya Adi-lah yang paham akan tabiat tak menentunya Tania. Tapi berbanding terbalik dengan harapan Adi, Tania yang masih sedikit menutup diri tak peduli dengannya. Meskipun Adi sudah sangat berbaik hati padanya. Tania masih tetap menganggapnya tak lebih dari seorang teman-namun di rumah Tania. Adi jadi labih dekat dengan adiknya Tania, dia berhasil naik pangkat. Dulunya hanya sebatas teman. Kini jadi 'teman dekat'.
Dan yang paling mengejutkan pasangan itu datang. Mengunjungi rumah Tania tanpa tahu kedatangannya. Pertemuan 2 tahun lamanya, awal mulanya sama-sama kaku. Bukan perwujudan diri mereka masing-masing. Namun akhirnya Tania membuka diri, menenangkan perasaanya. Membuat pertemuan 2 tahun lamanya itu jadi balasan kerinduan yang amat besar. Akhirnya mereka bersama-sama sebagia keluarga pergi menuju ke pusara Ibu Tania dan Dede.
Pukul 20.10 : Potongan Teki-Teki Yang Pertama
Setelah pergi kepemakaman Ibunya. Tania tidak punya kesempatan banyak untuk berbincang pada dia. Sebab Ratna selalu berada di sisi Tania dan mengobrol banyak hal. Tania tidak punya pilihan lain selalin berbincang padanya sebagai adik yang menjaga kesopanan. Sebab dia sudah mulai menilai Ratna dengan baik dan menerimanya sebagai kakak yang selalu bertukar cerita bersama. Malamnya Tania pergi ke toko buku, dan kejadian hebat itulah terjadi. Di tengah-tengah hujan Adi mengungkapan perasaannya. Semenjak itu Adi selalu menghindari Tania bahkan di kampusnya. Tania lagi-lagi tak mempedulikan... biarkan saja katanya. Wanita memang merepotkan, aduh Adi... lagian pake nekat segala ngungkapin perasaaan ke Tania.
Oke kembali lagi ke Tania yang penuh dengan kesibukannya. Dia kembali ke Singapura, melanjutkan bisnisnya dan merampungkan kuliahnya. Lagi dan lagi Tania mendapatkan penghargaan di NUS sebagai lulusan terbaik, lulusan tercepat, lulusan tertinggi GPA-nya. Dia tidak hadir saat kelulusan, tidak ada Dede, Ratna bahkan dia. Mereka hanya menyampaikan ucapan selamat lewat email.
Semanjak lulus Tania jadi super sibuk, bekerja di perusahaan ternama. Yang individualis yang memikirkan pekerjaan saja tanpa yang lain. Semakin hari Tania merasa hampa, hanya itu-itu saja yang dia lakukan. Yah setiap melam adiknya tak absen mengobrol di chatting. Dia mengatakan bila sudah punya pacar, Dede juga unik. Tokoh yang membuatku jadi kagum. Terutama saat mengunjungi pusara Ibunya selepas 8 tahun. Dia jadi lebih dewasa, katanya juga sering menulis-tulis puisi.
Dede mengabarkan sesuatu beberapa waktu lalu bila Ratna menangis di halaman belakang rumahnya. Tania yang mendengar kabar itu merasa cemas kepada mereka. Masa lalu itu kini datang menjadi potongan teka-teki... dan itu harus diselesaikan Tania secepatnya. Tania berusaha menanyakan kabar pada Ratna, dan sebelum itu terjadi e-mail dari Ratna-lah yang terlebih dulu terkirim. Surat yang panjang, amat menyedihkan. Membuka lembar teka-teki pertama. Ternyata isinya adalah curhatan Ratna yang ditelantarkan Danar. Ratna berpikir bahwa Danar tak pernah mencintainya, dia mencintai sebuah bayangan-banyangan entah apa itu.
Di sepanjang harinya tidak pernah bisa bahagia... Danar jarang berbicara dengan Ratna. Mendiamkannya lebih dari 6 bulan. Tania cemas akan hal itu, dia berusaha menanyakan kabar Ratna lewat e-mail, tetap saja Tania belum bisa menemukan kunci permasalahan mereka. Dede yang diamanati untuk mencari tahu... justru terus berbohong dan menutupi sesuatu. Membuat Tania bingung harus melangkahkan kaki ke jalan mana. Dia hanya rindu pada dia 10 tahun silam, tapi mengapa orang mulia dan setia sepertinya justru menyakiti hati Ratna, istrinya sendiri?
"Pria itu selalu punya ruang tersembunyi di hatinya. Tak ada yang tahu, bahkan percayakah kau ruang sekecil itu jauh lebih absurd dari pada wanita terabsurd sekalipun."
Pukul 21.15: Semuanya Berubah Teramat Cepat
Semakin hari e-mail-e-mail menyakitkan dari Ratna terus terkirim. Tania setia membacanya, tapi semakin sedih ia merasakannya. Danar memperlakukan Ratna dengan dingin, tatapan datar, teduh, kosong, polos. Setiap hari-entah sampai kapan berakhir. Aku menggerang, kenapa Tania tidak menanyakan langsung pada dia. Padahal Tania sudah melupakan masa lalunya.
Yang Tania kedepankan adalah mereka, Kak Ratna dan Kak Danar yang sudah dianggap sebagai kakak sendiri. Setelah membaca e-mail terakhir dari Ratna yang berdarah-darah. Tania memustuskan pulang ke Jakarta. Dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya sebagai adik yang ingin menolong kakaknya.
Pukul 20.17: Ketika Semua Potongan Lengkap
Tania menemui dia di tempat masa lalunya. Di bawah pohon linden, dekat dengan rumah kardusnya dulu. Di malam yang kelam perlahan-lahan teka-teki itu terungkap. Dede akhirnya pasrah memberi tahu hal penting yang berbulan-bulan ia sembunyikan dari kakaknya. Semunya lengkap. Semua perasaanya itu terungkap, jelas. Sejelas kenyataan. Tapi aku kecewa pada Danar, meski dia ternyata mencintai Tania... sejak di kepang dua, sejak tumbuh jadi anak yang dibanggakan... pengungkapan itu hanya dibalas datar olehnya.
Begitu sulit ia mengungkapnya. Dia sangat pandai menyembunyikannya, dalam senyaman, pelukan, elusan... dan kebaikannya. Laki-laki yang pengecut. Entah, percaya atau tidak aku ikut terluka dengan semua penjelasan yang tersembunyi itu. Tanpa akhir yang benar-benar terungkap.
Pukul 09.00 (Keesokan Pagi): Kembali
Tania pulang kembali. Pergi dari kamarnya.. dari bangunan itu. Dia tau segalanya. Meminta Danar untuk tetap kembali pada Ratna. Seperti yang aku duga. Akhir yang menggantung. Tapi sudah memberikan kejelasan yang sebenarnya. 'Cinta tak harus memiliki. Tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini.
Hanya cinta yang sempurna
Review ku:
🍃Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu Tania. Berlatar di lantai 2 toko buku terbesar di kotanya. Menceritakan masa lalu dan kenangan manis pahitnya. Ini pertama kalinya aku membaca tulisan Tere Liye. Caranya menjalankan ceritanya sangat indah... kata" penuh diksi dan sangat bermakna.
🍃Konflik masa lalu disuguhkan penulis dengan amat hati-hati. Terlalu hati-hatinya membuatku semakin menduga-duga. Dan salah satu dugaanku benar dan terjadi. Seandainya aku tak menduga-duga pasti bayangan Danar dan Tania tak akan menghantuiku.
🍃Menyesakkan, gemas sekali pada Danar terutama. Membuatku tidak habis pikir dengan penulisnya. Yah aku harus menerima endingnya. Pasrah saja.... jatuh begitu saja seperti daun yang jatuh tak membenci pernah membenci angin.
Bintang 4/5 untuk novel Tere Liye ini. Selamat membaca novel penuh emosi ini, semoga di akhir cerita kalian diberi ketabahan. Aamiin. Terima kasih banyak!
Komentar
Posting Komentar