Judul Buku: Rahasia Hati
Penulis: Natsume Soseki
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit-cetakan pertama: 1978
Jumlah Halaman: 264
ISBN: 978-602-424-032-5
EISBN: 978-602-424-989-2
Genre: Sastra-Fiksi
Status: E-book pinjaman
Baca di aplikasi Ipusnas
Sinopsis Novel Rahasia Hati-Natsume Soseki
RAHASIA HATI melukiskan kesepian manusia dalam dunia modern. Tokoh Sensei yang merasa asing dalam masya rakat, bahkan terhadap istrinya, justru sadar bahwa sikapnya itu merupakan suatu dosa. Dan dosa itu harus mendapat hukuman-bukan dari manusia lain, tapi dari dirinya sendiri.
Resensi Novel Seri Sastra:Rahasia Hati-Natsume Soseki
Mulanya aku berniat ingin membaca novel Im a Cat milik Natsume Soseki di aplikasi Ipusnas. Namun sayang disanyang hanya ada 2 novel yang tersedia di aplikasi itu. Pertama Rahasia Hati (Kokoro) dan Botchan. Yah... awalnya aku pikir ini novel yang seru dan membuatku terhibur. Tapi setelah mendengar begitu banyak ulasan cukup agresif dari novel ini, aku memilih mendiamkannya sampai aku benar-benar penasaran dengan ceritanya. Aku menyimpannya lebih dari 2 minggu, tapi stok buku yang dari akhir-akhir ini ingin aku baca belum bisa disimpan karena antrian yang sangat penuh. Sampailah aku memberanikan diri untuk membaca novel ini.
Natsume Soseki itulah judul yang terpampang sangat besar di depan covernya. Seri Sastra:Rahasia Hati. Judul aslinya adalah Kokoro yang sudah diterjemahkan menjadi Rahasia Hati. Novel ini sendiri terdiri dari 3 bab. Menggunakan sudut pandang tokoh Aku si mahasiswa dan juga Sensei. Dengan hampir seluruhnya berisi narasi yang kompleks terkadang bahasanya lumayan berbelit-belit. Hampir butuh berkali-kali membaca satu kalimat agar bisa meiknati karya sastra dari sang legendaris Natsume Soseki. Jenuh terkadang, namun penggunaan sudut pandang orang pertama sangatlah pas menggambarkan karakter tokoh dalam mendeskripsikan sesuatu, bagaimana manusia ternyata butuh waktu untuk memahami keinginan tak beralasan yang sedang diraskan.
Di bab pertama judulnya adalah Sensei Dan Aku. Tokoh Aku menjadi karakter utama di bab awal ini. Menggunakan Pov orang pertama yaitu si Aku itu sendiri. Awal halaman pertama aku membaca sudah membuat kepalaku yang dangkal ini terasa sesak dan bingung. Bahasanya yang kaku dan bagiku agak terlalu sastrawan dengan latarnya di dunia modern dalam novel ini. Jujur saja, butuh beberapa kali aku mengulang-ulang kalimat rumit yang sepele tapi berbobot itu. Sempat saja aku down dan ingin menghentikan membaca.
Tapi karena keinginanku untuk membaca novel klasik Jepang oleh Natsume Soseki yang ternama itu membuatku penasaran dan tetap melanjutkan. Natsume Soseki sangatlah hebat di dalam novel buatannya ini. Novel terjemahan ini tak melewatkan sedikitpun bagaimana menjelaskan hati manusia berproses dan menilai sesuatu dalam 264 halaman! Hal ini yang membuatku terus mengerutkan kening sekaligus kagum.
Tokoh aku membuatku tertarik pada awal kisahnya. Pertemuan pertamanya dengan seorang Sensei yang tanpa disengaja menjadikan si Aku tertarik pada Sensei. Bagaimana bisa ia langsung tertarik dengan tokoh Sensei yang bahkan Sensei pun tak mengenalinya? Bahkan setelah usaha keras si Aku untuk menyakinkan tokoh Sensei pernah ditemuinya di suatu tempat, namun Sensei mengelaknya dengan tegas. Bahwa tidak mungkin si Aku itu pernah melihatnya.
Berlanjut dengan kemauan keras si Aku yang ingin sekali berteman dan berkarib dekat dengan Sensei, cerita ini terus berlanjut hingga mereka akrab dan sering pergi bersama-sama. Mengobroli sebuah pandangan-pandangan hidup Sensei yang individual dan menjauh dari kehidupan yang dikatakan modern di kala itu. Seperti yang aku bilang, Sensei dengan wataknya yang cukup serius memilih jalan hidupnya yang terus sendiri, seakan sudah membenci dunia yang ia tempati.
Di suatu kesempatan Sensei pernah mengatakan tentang kematian, beberapa kali itu sudah membuat tokoh Aku dan istri Sensei sendiri Shizu khawatir. Dengan beberapa pandangan-pandangan unik dan terkadang kontradiksi terhadap gagasan tokoh Aku. Justru membuatnya semakin ingin tahu lebih dalam tentang seoarang Sensei. Mengapa ia begitu membenci dunia, bahkan ingin segera pergi lalu bisa cepat-cepat bertemu kematian, kesalahan apa yang membuat Sensei memilih dunianya sendiri?
Bab kedua dengan judul: Orang Tuaku Dan Aku. Tidak banyak yang membuatku penasaran di bab ini. Kembalinya Tokoh aku pulang ke rumah orang tuanya selepas lulus dari universitas, yang dikatakan bahwa ayahnya tokoh Aku mengalami sakit ginjal dan beberapa kali sering pingsan. Tentu itu menimbulkan kehawatiran bagi anaknya. Selepas liburan musim panas di rumahnya, tokoh Aku berniat kembali ke Tokyo untuk mencari pekerjaan agar ayahnya yang sakit tak lagi berharap yang lebih pada anaknya itu. Namun pada bagian ini keberangkatan tokoh Aku selalu tertunda yang disebabkan ayahnya terus jatuh pingsan.
Dalam beberapa hari yang singkat aku mampu membaca bab 2 ini lebih cepat dari membaca bab pertama. Karena banyak dialog yang mencairkan kejenuhan akan narasi yang panjang. Lagipun banyak konflik yang ditemukan di bab ini sehingga semakin ingin cepat-cepat menuntaskannya.
Terakhir ini bagian yang paling kutunggu-tunggu yaitu di bab ketiga. Judulnya: Sensei dan Pesannya. Sebelumnya Sensei memang secara terang-terangan mengatakan bila akan mengungkapan tentang masa lalunya pada si Aku .Singkat cerita tokoh Aku pergi ke Tokyo secara tergesa-gesa setelah mendapat sangat banyak surat dari Sensei. Hal yang membuatnya melakukan hal begitu dan membuatnya meninggalkan Ayahnya
yang hampir sekarat itu adalah ketika ada surat yang rupanya ditulis oleh Sensei. Mulai awal paragraf aku hampir saja ingin langsung terobos karena tak sabar mengetahui kisah Sensei. Tapi aku upayakan agar menyimaknya pelan-pelan supaya mendapakan maksud dari kisah Sensei ini.
Ternyata Laki-Laki itu jauh lebih abstrak: Natsume Soseki
Entahlah ini asumsi atau bukan. Buat aku tokoh Sensei itu memiliki sebuah penyakit Psikologis kalau dalam bahasa sekarang. Atau gampangnya gangguan kejiwaan. Di bab ketiga Sensei menjelaskan mengapa ia membeci sangat manusia. Pamannya lah yang membuatnya seperti demikian itu. Masalah harta warisan memang tak pernah usai. Dan mungkinlah dari sini aku paham mengapa Sensei mendesak agar si Aku segera membicarakan harta warisan pada ayahnya yang sedang sakit. Sebelum hal buruk paling tak diinginkan terjadi antar keluarga.
Novel ini begitu karateristik pada tokoh Sensei yang pendiam. Pembaca diajak menyelami betapa hati pria itu sangat abstrak dan begitu sulit dimengerti. Seperti sekarang contohnya, wataknya dulu sangatlah murah hati. Dan sekali ia ditipu oleh pamannya sendiri. Kekayaan keluarganya hangus direbut orang yang tidak tahu diri. Sensei jadi lebih curiga kepada orang-orang.
Ketika dia tinggal di sebuah keluarga janda tentu saja ia tetap merasa begitu. Terkadang bersama dengan Ojosan atau Shizu membuatnya seperti dihibur oleh pelipur lara. Meskipun berdebatannya dengan Okusan agak membuatku ketar-ketir tentang hubungannya dengan Ojosan. Suatu ketika Okusan tampak menaruh harapan besar pada Sensei. Ada kalimat yang dilontarkan Sensei yang menggangguku
"Adakah kaum wanita dikaruniai daya intuisi yang begitu besar?"......."sehingga dalam sekejap ia tau siapa yang dapat dipercayai dan siapa yang tidak?".....
Tapi bagian ini sungguh kacau. "Tidakkah karena kaum wanita begitu mudah menaruh kepercayaan maka mereka senantiasa ditipu oleh kaum pria?" Begitulah pandangan Sensei yang memang sepertinya agak benar.
Sensei orang yang penakut. Jelas kali terpintas dalam wajah Ojasan yang menaruh harapan pada Sensei. Tapi Sensei yang takut dan ragu-ragu untuk mengungkapkan perasaannya sendiri kepada Ojosan. Sungguh membuatku geleng-geleng kepala atas sikapnya itu.
Halaman 174! Akhirnya dia menyebutkan kawannya 'K! Dia tokoh yang menarik bagiku. K adalah kawan Sensei sejak kecil, dari situ aku tahu bahwa dia tinggal di keluarga yang bisa dibilang religius. Pandangan-pandangan akan tuhan dan kepercayaan. Dia menganggap dirinya sebagai pendeta, yang tak membenarkan menikah. Atau dia ingin menjadi pendeta yang membujang. Keduanya adalah 2 orang yang kurang lebih sama. Yah sama-sama menyukai Ojosan yang tinggal ditempat yang ditempati mereka. K yang ternyata juga menyukai Shizu mengungkapkannya terlebih dulu pada kawannya, Sensei.
Padahal yang menyukai terlebih dulu adalah Sensei yang memang lebih lama tinggal di rumah Okusan dan Ojosan. Persaingan keduanya membuatku tahu bahwa mengungkapkan perasaan itu tak mudah bagi laki-laki, butuh keberanian dan tanggung jawab untuk kedepannya. Sifat Sensei yang terlalu penakut untuk mengungkapkan hati dan perasaannya, membuatnya digandrungi perasaan wasapada dan was-was. Terlintas di kesempatan dia ingin mencurangi kawannya sendiri dari belakang. Watak pemurah dan terlalu percaya pada orang lain sudah dibuatakan oleh kejahatan dan menginginkan kemenangan yang tidak adil. Kalau saja, andai saja Sensei mau berterus terang bila ia juga menyukai Shizu, pasti akhirnya takkan menjadi tragis.
Selepas pengkhianatan Sensei terhadap K. Dan terlebih lagi Sensei dan Shizu akan menikah. K memutuskan mengakhiri hidupnya terlebih dulu dengan cara tang tidak wajar. K bunuh diri akibat tertekan dengan luka batin yang ia rasakan. Meskipun di pesan terakhirnya tak menyebutkan rasa sakitnya pada Sensei atau tentang perasaannya kepada Shizu. Sensei menyimpulkan bahwa kawannya itu mati karenanya. Dan dapat dipastikan meskipun secara tidak langsung Sensei telah membunuh K. Pada bagian ini jantungku berdebar dan juga tegang, tepat ketika Natsume Soseki menjabarkan K yang bunuh diri secara tragis dan mencekam.
Goresan hati yang bersimbah darah telah merembes ke jiwa Sensei begitu saja. Sensei diliputi penyesalan dan ucapan permintaan maaf yang sesungguhnya tak pernah bisa tersampaikan. Dia menuliskan pesannya pada si Aku untuk merahasiakan kebusukan Sensei yang sebenarnya pada Shizu, supaya dia terhindar dari rasa sakit yang ia derita sepanjang hidupnya dengan Sensei. Mana yang salah dan yang benar, aku tidak pasti dapat menyimpulkan. Tapi satu hal yang perlu dipahami adalah banyak pelajaran yang didapat dari novel ini.
1. Konflik sederhana yang dari dulu sampai sekarang masih saja terlihat tak pernah mudah untuk diselesaikan. Contoh Paman Sensei yang menggaruk hak waris milik Sensei. Jika saja semua orang tau, bila orang yang dulunya baik bisa berubah menjadi jahat karena kesempatan emas yang kita anggap hanya hal sepele. Bukankah problems ini sering dan banyak kita jumpai? Kisah Sensei agaknya mampu jadi pelajaran.
2. Sebagai orang yang lugu dan terlalu baik apalagi dengan tangan terbuka menyerahkan kepercayaan pada orang lain, bisa saja imbasnya terjadi pada kita. Andai Sensei tak berbaik hati menawarkan tempat tinggal di tempat Ojosan berada. Mungkin saja, K tak pernah tau akan Shizu bahkan menyukainya. Bukan berarti jahat atau egois. Karena hal apapun dalam dunia ini bisa saja terjadi.
3. Di jaman sekarang ini Sensei mungkin akan diagnosis memiliki anxiety disorders atau post traumatic stress disorders (PTSD). Sikapnya yang penakut, ragu akan mengatakan sesuatu yang ia pendam, ditolak, tak dihargai. Membuatnya mundur dan gegabah. Karena dia berharap orang lain akan menjawab sesuai apa yang kita pikirkan. Bukan kesalahan bila kita tak mau mengungkapkan isi hati, tapi mungkin dengan menerima sakit hati di awal. Mungkin kita tak akan pernah terluka seumur hidup seperti Sensei. Kalau saja dia sedikit terbuka dengan kawannya dan mengerti apa yang dirasakannya mereka bisa bersama-sama meringankan penderitaan yang dirasakan. Karena dalam masalah... harus ada yang jadi korban.
Begitulah caraku memahaminya. Sepertinya aku harus membaca bab 3 sekali lagi, karena ada kalimat-kalimat yang sukar dicerna yang aku terjang begitu saja tanpa tau makna sesungguhnya. Ini akan jadi novel yang luar biasa menguras otak, jika tertarik coba saja membacanya. Sebab di akhir cerita kalian akan merasakan ketegangan yang luar biasa hebatnya!
Selamat membaca! Terima kasih semoga bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar